temu-nasional-lintas-iman

Kami mengajak setiap umat beragama untuk senantiasa mawas diri dalam menjalani kehidupan keberagamaan. Dalam konteks interaksi dengan umat beragama lain, hendaknya setiap umat beragama mengedepankan nilai saling memahami demi terciptanya keharmonisan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Itulah salah satu dari delapan rekomendasi Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya di Klaten, 14-15 November 2016. Pernyataan ini dibacakan oleh KH Jazuli Kasmani di malam perayaan Hari Toleransi Internasional di Monumen Joeang 45 Klaten, 15 Nopember 2016.

Acara Temu Nasional diselenggarakan oleh Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB Kebersamaan) Klaten. Sebanyak 43 simpul jaringan multikultur di Indonesia mengikuti pertemuan itu untuk membahas tema “Menyemai Perdamaian dan Merajut Kebhinekaan untuk Indonesia yang Semakin Beradab dan Berkeadilan Melalui Kearifan Budaya Lokal”.

Ketua panitia KH M Jazuli A Kasmani mengatakan, temu nasional merupakan ikhtiar untuk mengabarkan kepada seluruh masyarakat, bahwa Hari Toleransi Internasional merupakan cambuk pelecut agar tetap terus semangat melakoni kegiatan-kegiatan yang menjurus kepada kerja-kerja untuk kebhinekaan di negeri ini.

“Bibit-bibit kedamaian dan kerukunan perlu kita tebar kapan saja dan di mana saja, bukan hanya tergantung pada sebuah momen tertentu. Acara temu nasional lintas iman ini, merupakan salah satu usaha yang kami lakukan untuk menebar bibit-bibit perdamaian dan kerukunan tersebut,” katanya.

Temu nasional diisi berbagai kegiatan seperti apel kebangsaan kaum muda multikultur, karnaval lintas iman dan budaya, pameran kearifan lokal, workshop pemuda pelajar dan aneka pertunjukan kesenian. Selain selebrasi yang melibatkan masyarakat luas, temu nasional juga diisi refleksi yang dilakukan para pegiat dialog dari berbagai daerah di Indonesia.

Dua tema besar yang dibahas dalam refleksi yaitu “Menyemai Perdamaian di Tengah Perkembangan Gerakan Multikultur melalui Kearifan Budaya Lokal dalam Rajutan Kebhinekaan” dan “Menjaga Kelestarian Alam melalui Kearifan Lokal untuk Menjaga Bumi sebagai Rumah Bersama bagi Semua Makhluk.”

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) Pastor Aloys Budi Purnomo Pr menjadi salah satu reflektor acara. Menurutnya, dalam konteks hidup sekarang, umat beragama perlu mengembangkan paradigma positif pada pihak lain.

“Positive thinking! Itu yang saya hayati, saya pahami dan saya terima sebagai ajaran dari sisi Gereja Katolik melalui Konsili Vatikan II, yang mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak menolak apapun yang baik, yang benar, dan yang suci yang ada dalam setiap agama dan kebudayaan. Cara pandang positif itu, saya hayati,” kata imam yang piawai bermain saksofon.

Sedangkan KH Imam Azis dari PBNU menjelaskan, awalnya agama adalah untuk kesalehan pribadi. “Dalam Islam yang saya pahami, saleh pribadi menjadi sesuatu yang sangat penting, diajarkan dalam kehidupan sehari-hari terus menerus,” katanya. Kalau urusan saleh pribadi selesai, lanjutnya, seseorang bisa berhubungan dengan kelompok lain, komunitas lain, keyakinan lain, dan itu tidak jadi masalah.

Direktur Percik Salatiga, Pradjarta Dirdjosanjoto mengatakan, memahami orang lain yang berbeda agama adalah dengan meminta penjelasan langsung dari orang tersebut, tanpa berprasangka buruk. Namun, “kerap kali kita mengalami kesulitan memahami orang lain karena memakai kaca mata sendiri. Orang lain diletakkan sebagai obyek yang jauh dari diri kita sehingga kita tidak mempunyai pengalaman otentik dari pergaulan tersebut,” katanya.

Muhammad Al Fayyad menyoroti perlunya agamawan terlibat dalam upaya melestarikan alam ciptaan. “Harus diakui kita menghadapi krisis. Bukan cuma krisis di bidang antaragama, tapi memang ada krisis yang saya kira tidak kalah mengkhawatirkan,” tegasnya seraya menyebut krisis sosial ekologi yang akan menjadi semacam bom waktu.

Banthe Dhammatedjo menegaskan, agar bumi bisa menjadi rumah bagi semua makhluk, pertama-tama manusia harus menyadari bahwa tidak ada yang bisa hidup seorang diri. “Karena manusia tidak bisa berdiri sendiri dan selalu membutuhkan yang lain, maka kita sebagai manusia hendaknya selalu ingat dan sadar, bahwa manusia bertanggung jawab atas kelestarian semesta dan seluruh isinya,” katanya.

Beberapa reflektor lain seperti Anak Agung Gde Darmaja dari PHDI Jawa Tengah dan Pendeta Penrad Siagian dari PGI turut menyampaikan refleksi dalam acara yang digelar bertepatan dengan HUT FKUB Kebersamaan dan Hari Toleransi Internasional.

FKUB Kebersamaan merupakan salah satu forum di Klaten yang merupakan wadah dan sarana berkumpul dan berkomunikasi masalah seputar warga dan komunitas di lingkungannya masing-masing. Dalam kegiatannya forum itu menjunjung tinggi nilai gotong royong dan berbagi di antara sesama anggota. FKUB Kebersamaan didirikan 14 November 1998 oleh tokoh-tokoh lintas agama di Klaten. (Lukas Awi Tristanto)

temu-nasional-lintas-iman-2

temu-nasional-lintas-iman-3

temu-nasional-lintas-iman-1

temu-nasional-lintas-iman-4

 

 

 

Tinggalkan Pesan