sidang-kwi-2016

Meninggalkan tahun 2016 dan memasuki tahun 2017, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menulis dalam pesan Natal bersama bahwa masyarakat Indonesia bukan saja menyaksikan peningkatan dan perbaikan dalam berbagai pelayanan dan pembangunan, tetapi juga menghadapi kekerasan, korupsi dan kemiskinan.

Pesan Natal Bersama PGI dan KWI Tahun 2016 bertema “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:11) itu ditandatangani 10 November 2016 oleh Ketua Umum dan Sekretaris Umum PGI serta Ketua dan Sekretaris Jenderal KWI, masing-masing Pendeta Dr Henriette TH Lebang, Pendeta Gomar Gultom M.Th, Mgr Ignatius Suharyo, dan Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC.

Menurut PGI dan KWI, ada hal-hal penting yang perlu direnungkan bersama pada peristiwa Natal. “Sebagai warga negara kita bersyukur bahwa upaya pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia semakin memberi harapan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata. Walaupun belum sesuai dengan harapan, kita sudah menyaksikan adanya peningkatan dan perbaikan pelayanan publik, penegakan hukum, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas pendidikan,” tulis pesan itu.

Semua itu, tegas PGI dan KWI, dapat dipandang sebagai “wujud nyata sukacita iman” sebagaimana warta malaikat kepada para gembala yang ditulis sebagai tema pesan itu.

Namun, di saat yang sama PGI dan KWI mengakui “masih ada juga segi-segi kehidupan bersama yang harus terus kita perhatikan dan perbaiki.” Beberapa contoh mereka kemukakan dengan mengatakan bahwa “kita kadang masih menghadapi kekerasan bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), masalah korupsi dan pungli juga masih merajalela, bahkan tersebar dari pusat hingga daerah.”

Kemiskinan yang sangat memprihatinkan masih juga dihadapi, tegas PGI dan KWI seraya mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan angka kemiskinan per Maret 2016 masih sebesar 28,01 juta jiwa.

Keprihatinan lain yang juga memerlukan perhatian dan keterlibatan kita untuk mengatasinya, lanjut pesan Natal itu, adalah peredaran dan pemakaian narkoba. “Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015 memperlihatkan bahwa pengguna narkoba terus meningkat jumlahnya. Pada periode Juni hingga November 2015 terjadi penambahan sebesar 1,7 juta jiwa, dari semula 4,2 juta menjadi 5,9 juta jiwa,” tulis mereka dengan keyakinan bahwa pertambahan pengguna narkoba itu tidak lepas dari peran produsen dan pengedar yang juga bertambah.

“Kita juga harus bekerja keras untuk mendewasakan dan meningkatkan kualitas demokrasi,” tulis pesan itu seraya menegaskan bahwa penyelenggaraan Pemilu merupakan salah satu sarananya, seperti Pemilihan Umum Kepala Daerah serentak (Pilkada serentak) yang akan dilaksanakan 15 Februari 2017 di 101 daerah terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. “Peristiwa itu akan menjadi ujian bagi partisipasi politik masyarakat dan peningkatan kualitas pelaksana serta proses penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut,” tegas PGI dan KWI.

Tantangan-tantangan itu, sebagaimana juga masalah lain, harus dihadapi, “Jangan sampai persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan itu membuat kita merasa takut,” tulis pesan itu seraya menguatkan umatnya dengan mengutip pewartaan malaikat tentang kelahiran Kristus, “jangan takut” (Luk 2:10).

Di bagian akhir pesan itu, PGI dan KWI meminta umatnya untuk menjadikan tantangan-tantangan itu sebagai kesempatan untuk mengambil prakarsa dan peran secara lebih nyata dalam menyikapi berbagai persoalan hidup bersama ini.

Pesan itu lalu disertai berbagai seruan yang sengaja diberi nomor oleh PEN@ Katolik:

  1. Kita ciptakan hidup bersama yang damai dengan terus melakukan dialog.
  2. Kita lawan korupsi dan pungli dengan ikut aktif mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran pembangunan.
  3. Kita atasi problem kemiskinan, salah satunya dengan meningkatkan semangat berbagi.
  4. Kita lawan narkoba dengan ikut mengupayakan masyarakat yang bebas dari narkoba, khususnya dengan menjaga keluarga kita terhadap bahaya barang terlarang dan mematikan itu.
  5. Kita tingkatkan kualitas demokrasi kita melalui keterlibatan penuh tanggungjawab dengan menggunakan hak pilih dan aktif berperan serta dalam seluruh tahapan dan pelaksanaan Pilkada.
  6. Kita juga berharap agar penyelenggara Pilkada dan para calon kepala daerah menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap sportif, menaati semua aturan yang sudah ditentukan dan aktif berperan menjaga kedamaian demi terwujudnya Pilkada yang berkualitas.
  7. Kita tolak politik uang. Jangan sampai harga diri dan kedaulatan kita sebagai pemilih kita korbankan hanya demi uang.
  8. Kita syukuri kehadiran Yesus Kristus yang mendamaikan kembali kita dengan Allah. Inilah kebesaran kasih karunia Allah, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah (1Yoh 2:1). Di dalam Yesus Kristus kita memperoleh hidup sejati dan memperolehnya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10).
  9. Kita syukuri juga berkat yang telah kita terima sepanjang tahun yang segera berlalu.
  10. Kita sampaikan berkat sukacita kelahiran Yesus Kristus ini kepada sesama kita dan seluruh ciptaan.
  11. Kita mewujudkan karya kebaikan Allah itu melalui perhatian dan kepedulian kita terhadap berbagai keprihatinan yang ada dengan aktif mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dan yang ramah lingkungan.

Dengan demikian, PGI dan KWI percaya bahwa perayaan kelahiran Yesus Kristus ini dapat “menjadi titik tolak dan dasar bagi setiap usaha kita untuk lebih memuliakan Allah dalam langkah dan perbuatan kita.” (paul c pati)

 

Teks lengkap pesan itu bisa dibaca di http://www.mirifica.net/2016/11/11/pesan-natal-bersama-pgi-dan-kwi-2016/

 

 

Tinggalkan Pesan