jesus-annoints-a-man-born-blind

PEKAN BIASA XXXIII (H)
Santo Yosef Maria Pignatelli; Santo Duns Scotus; Santo Nikolaus Tavelic

Bacaan I: Why. 1:1-4; 2:1-5a

Mazmur: 1:1-4b; R: Why. 2:7b

Bacaan Injil: Luk. 18:35-43

Ketika Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: ”Apa itu?” Kata orang kepadanya: ”Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru: ”Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: ”Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: ”Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: ”Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya: ”Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.

Renungan

Pijat tunanetra. Tulisan itu terpampang di depan sebuah rumah sederhana. Seorang bapak tua penghuni rumah dengan sigap akan membantu setiap orang yang meminta bantuannya. Seorang tunanetra yang memiliki keterampilan memijat. Upah memijat yang diterima menjadi penopang hidup keluarganya. Apa yang membuat hidupnya kuat dan bertahan? Ia mengatakan, hanya iman dan percaya kepada kebaikan Tuhan. Sikap hidupnya telah memberikan sebuah pelajaran berharga untuk setia, percaya, dan berharap dalam situasi tersulit sekalipun.

Beriman dan percaya kepada Yesus itu menyelamatkan. Beriman dapat dimulai dari sikap mau mendengar, berjumpa, dan memohon kepada Yesus atas hidup kita. Itulah yang diperlihatkan oleh si pengemis buta dalam kisah Injil hari ini. Iman akan Yesus yang bisa menyembuhkannya telah menggerakkan hatinya untuk mencari tahu keberadaan Yesus, lalu datang kepada-Nya sambil berseru-seru mohon belas kasihan Allah. Ia akhirnya memperoleh keselamatan karena imannya itu.

Keteguhan iman dan pengharapan memampukan kita untuk mengatasi segala persoalan hidup dalam bentuk apa pun. Pengharapan menguatkan orang untuk memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan ini akan menjadi sempurna dalam Allah sendiri bila kita setia hingga akhir. Mengisi hidup dengan baik dan melakukan pertobatan terus-menerus adalah bentuk iman dan pengharapan.

Tuhan Yesus, berilah aku iman yang kuat serta pengharapan yang teguh agar aku dapat mewartakan kasih-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan