janda

PEKAN BIASA XXXII
Peringatan Wajib Santo Yosafat Kunzewich, Usk Martir (M)
Santo Nilus; Santo Theodorus Studit

Bacaan I: 3Yoh. 5-8

Mazmur: 119:89.90.91.130.135.175; R: 89a

Bacaan Injil: Luk. 18:1-8

Pada suatu ketika, Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: ”Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: ”Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Renungan

Tidak ada seorang pun manusia yang hidup sendirian dan hanya untuk dirinya sendiri. Setiap manusia mempunyai ketergantungan pada orang lain di sekitarnya. Maka dengan sendirinya setiap orang juga membutuhkan pertolongan orang lain. Sikap saling menolong adalah buah dari kemuridan akan Yesus. Ia sendiri telah mengajarkan kepada kita untuk saling menolong satu dengan yang lain. Dan Allah adalah pertolongan kita yang luar biasa. Ia akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru memohon pertolongan-Nya dalam doa yang tekun dan mendalam.

Kerelaan untuk peduli dalam sikap menolong ini lahir dari ketulusan dan tanggung jawab iman bahwa Allah sendiri telah memberikan cinta dan kepedulian-Nya dengan pengorbanan Yesus di salib. Karena itu, kepedulian, pertolongan, dan bantuan dalam bentuk apa pun, sekecil dan sesederhana apa pun itu, bagi orang lain akan menjadi saluran rahmat dari Allah dalam diri setiap kita. Dengan sikap demikian pula, kita disadarkan akan anugerah Allah yang terbuka untuk setiap orang. Dan setiap kita pun dapat dan boleh menjadi saluran cinta Ilahi bagi sesama.

Adakah kita mau dan rela bekerja sama dengan Allah untuk berbagi cinta dan kehidupan bagi sesama kita? Ataukah kita tenggelam dalam cinta diri tanpa mau peduli dengan orang lain?

Ya Tuhan Yesus, jadikanlah aku sarana berkat dan anugerah cinta bagi sesamaku. Berilah aku hati yang sanggup berbela rasa dan sikap peduli dengan tulus. Amin.

Tinggalkan Pesan