persatuan-kristen

Upaya untuk persatuan umat Kristen adalah salah satu keprihatinan utamanya, salah satu yang Paus Fransiskus doakan bisa dialami setiap orang yang dibaptis. Kata-kata itu diungkapkan Paus saat bertemu dengan peserta Sidang Pleno Dewan Kepausan untuk Persatuan Umat Kristen di Vatikan. Pertemuan dari 8 November hingga 11 November itu bertema “Apa model persekutuan penuh?”

Bagaimana Paus Fransiskus mengubah hubungan-hubungan Gereja Katolik dengan umat Kristen lain? Bagaimana tujuan gerakan ekumenis itu berubah selama beberapa tahun terakhir? Dan apa model persekutuan penuh sebagaimana dipahami oleh Gereja Katolik saat ini? Itulah beberapa pertanyaan yang dibahas pada rapat pleno Dewan Kepausan untuk Memajukan Persatuan Umat Kristiani yang berlangsung di Roma minggu ini.

Pada hari Kamis, 10 November 2016, peserta bertemu dengan Paus Fransiskus yang menekankan bahwa perjuangan untuk persatuan umat Kristiani merupakan persyaratan iman penting iman bagi semua umat beriman dan sebuah prioritas pribadinya sendiri. Dalam pertemuan itu, para anggota juga mengeksplorasi konsep kesatuan sebagaimana dipahami dalam Gereja Ortodoks dan Gereja Protestan, dan juga dalam komunitas-komunitas ‘Gereja bebas’ yang lebih baru.

Salah seorang yang hadir dalam diskusi itu adalah Pastor Robert Christian OP, mantan profesor di Universitas Angelicum Roma dan saat ini bertanggung jawab atas pembinaan Dominikan di Amerika Serikat bagian Barat. Dia juga anggota Komisi Internasional Anglikan-Roma Katolik dan seorang konsultan untuk Dewan Kepausan.

Imam itu berbicara dengan Philippa Hitchen dari Radio Vatikan tentang fokus perjumpaan itu,  tentang sifat persatuan Kristen seperti yang dirangkum dalam lima kata yang dimulai dengan huruf ‘c': creed (iman), code (kode), cult (kultus), communition (persekutuan) dan charity (amal kasih), tetapi ia menunjukkan bahwa tidak semua yang hadir dalam dialog dengan Gereja Katolik sependapat dengan ide persatuan itu.

Inti diskusi ekumenis itu, kata imam itu, adalah pemahaman tentang pelayanan Petrus dan ia mencatat bahwa banyak umat Kristen lainnya “merasa frustrasi karena tidak mampu berbicara dengan satu suara” tentang Firman Tuhan.

Sejak Paus Yohanes Paulus II menerbitkan ensiklik persatuan Kristen, ‘Ut Unum Sint’, imam itu mencatat betapa banyak mitra dialog mencoba mengevaluasi kembali bagaimana pelayanan Petrus bisa dipakai oleh seluruh Gereja tanpa menyangkal keunikan peran itu.

Tentang bagaimana keputusan Paus Fransiskus dan para pendahulunya mempengaruhi dialog ekumenis, Pastor Robert menunjuk perubahan-perubahan yang sedang terjadi dalam Sinode Para Uskup, yang dibentuk dalam Konsili Vatikan II. Paus Fransiskus, kata imam itu, sedang akan memberikan “kekuatan deliberatif” kepada Sinode, dan diskusi-diskusi dalam sidang pleno itu sedang menguji “model-model synodalitas yang akan mencakup peranserta dari yang bukan uskup.” (paul c pati berdasarkan Radio Vatikan)

 

Tinggalkan Pesan