noah-flood

PEKAN BIASA XXXII
Peringatan Wajib Santo Martinus dari Tours, Uskup (P)

Santo Theodorus Konstantinopel

Bacaan I: 2Yoh. 4-9

Mazmur: 119:1.2.10.11.17.18; R:1b

Bacaan Injil: Luk. 17:26-37

Pada suatu ketika, Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: ”Sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk men­ambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan diting­galkan.” [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan diting­galkan.] Kata mereka kepada Yesus: ”Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: ”Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”

Renungan

Ubi caritas Deus ibi est. Di mana ada kasih, di sana Allah hadir. Ungkapan ini hendak menunjukkan bahwa kasih yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari merupakan perwujudan kehadiran Allah Sang sumber kasih. Karena Allah adalah kasih dan sumber sukacita, maka setiap orang yang beriman kepada-Nya mesti menghidupi kasih dan sukacita itu. Setiap pribadi, keluarga, maupun komunitas hidup bersama, yang hidup dalam semangat saling mengasihi akan menampakkan kegembiraan dan sukacita.

Perintah kasih ini telah ditunjukkan Allah sendiri dan menyata dalam diri Yesus Kristus Putra-Nya yang memberikan hidup-Nya hingga di kayu salib untuk manusia. Yesus mencontohkan penghayatan cinta yang paling otentik, yakni mencintai sampai habis, bahkan rela menyerahkan nyawa untuk keselamatan orang lain. Perintah kasih inilah yang hendaknya mendasari hidup setiap orang yang percaya akan Allah sumber kasih abadi. Semangat untuk saling mengasihi dan mencintai ini menjadi dasar atas segala pengharapan dalam menantikan datangnya Kerajaan Allah, dimana kasih yang sempurna akan dinyatakan.

Dalam dunia dewasa ini, semangat kasih yang sejati terkadang menjadi luntur karena  digadang-gadang oleh harta, takhta, dan kenikmatan duniawi. Cinta kita tidak lagi otentik, tetapi penuh kemunafikan dan kepentingan terselubung. Jika demikian, cinta kita menjadi cinta murahan, cinta palsu, cinta ‘ada maunya’, dan bukan cinta yang terindah sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Bagaimana dengan penghayatan cinta kita masing-masing?

Ajarilah aku untuk mencintai, ya Tuhan, agar dunia tahu bahwa Engkaulah Kasih abadi dan kesempurnaan. Amin.

 

Tinggalkan Pesan