sumpah-pemuda-1

Sudah waktunya spirit Sumpah Pemuda (Spirit 28) dihidupkan kembali di antara kita. “Saya kira kita harus ingat bahwa yang mempersatukan Indonesia itu adalah kebangsaannya. Karena satu bangsa, orang yang sangat berbeda dalam semua dimensi berbeda, mau bersatu, satu hati, satu jiwa,” kata Pastor Frans Magnis-Suseno SJ seraya menegaskan bahwa “jiwa dan hati itu penting sekali.”

Namun, Pastor Magnis, yang berbicara dalam Sarasehan Sumpah Pemuda yang digelar di Kudus, 27 Oktober 2016, melihat adanya tantangan yang menghadang yakni daya tarik konsumerisme. “Semakin banyak orang kita mewujudkan identitas mereka, dia itu siapa dari apa yang ditawarkan di dalam mal-mal,” kata imam itu di depan sekitar 500 peserta dari berbagai agama itu.

Tokoh Katolik dan budayawan Indonesia itu menunjukkan bahwa ada orang yang tidak bisa membeli sesuatu, lalu merasa malu. “Kalau dia tidak bisa beli ini atau beli itu, dia merasa malu. Kalau Anda tidak punya smartphone yang paling akhir, bukannya tidak bisa bekerja, Anda merasa malu,” kata imam itu.

Pastor Magnis juga mendorong orang muda untuk mempelajari sejarah bangsa Indonesia dan memberi ruang di dalam hatinya bagi bangsa dan negara kita. “Sebetulya ada beberapa buku yang menarik mengenai tokoh-tokoh kita ini, sehingga kita tahu tentang bangsa Indonesia, masalahnya, termasuk tantangan, ancaman, dan zaman-zaman gelap bangsa ini.”

Orang muda, menurut imam itu, tidak berjalan seperti anak kecil di antara segala macam tantangan. “Kita harus buka hati, buka wawasan dan otak untuk mengerti tentang bangsa. Kita juga harus bersatu, misalnya membentuk kelompok kecil yang bersama-sama meminati bangsa, membicarakan masalah, mengajak orang yang tahu untuk melihat itu. Jadi memberi perhatian, jangan sampai kita habis waktunya hanya dengan diri sendiri,” tegas Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Drikarya itu.

Narasumber kedua, Cyprianus Lilik Krismantoro, mengatakan bahwa semangat Sumpah Pemuda adalah sesuatu yang sangat tidak asing dari proses tumbuh kembang orang-orang muda itu sendiri. “Dalam kaca mata kita, melihat itu sebagai bagian dari proses tumbuh kembang orang muda. Bagi saya spirit 28 adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan bahwa inilah kemudaan saya, inilah jiwa muda saya, inilah roh muda saya, dan inilah cara saya menghidupi roh kemudaan saya dengan cara menghidupi yang namanya Indonesia. Dan roh itu hidup sebagai satu, kami semua satu saudara, kami semua satu bahasa, kami semua satu tanah air,” kata lelaki berambut gondrong itu.

Sedangkan JC Tukiman Taruna Sayoga mengatakan, orang-orang muda membutuhkan etos dalam hidupnya. “Kalau kerja ya etos kerja, kalau kemudian di sekolah ya etos disiplin,” kata aktivis sosial kemasyarakatan itu. Menurutnya. dalam ranah institusi seseorang harus menekankan bahwa etos kerja itu begitu penting. “Yang namanya disiplin itu begitu penting,” katanya.

Dalam ranah masing-masing pribadi, lanjutnya, orang muda harus memberi ruang dalam hatinya tentang keindonesian.

Acara sarasehan diisi dengan penampilan enerjik orang muda Katolik berupa aksi teatrikal, pembacaan surat pada presiden, dan nyanyian untuk bangsa.(Lukas Awi Tristanto)

sumpah-pemuda-4

sumpah-pemuda-3

sumpah-pemuda

Tinggalkan Pesan