allah-dan-uang

PEKAN BIASA XXXI (H)
Santo Elizabeth dan Santo Zakharias;

Beata Fransiska Amboisa; Beato Guido M. Conforti

Bacaan I: Flp. 4:10-19

Mazmur: 112:1-2.5-6.8a.9; R:1a

Bacaan Injil: Luk. 16:9-15

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.”

Renungan

Kesetiaan itu bukanlah perkara kewajiban, melainkan sejumput kemauan dalam totalitas pemberian diri. Dalam perkara kecil dan sederhana sekalipun kesetiaan seseorang dapat teramati.

Bagi sebagian orang, kesetiaan hanya bersinggungan dengan persoalan dan tanggung jawab besar yang dapat disaksikan dan diapresiasi banyak orang. Karena itu, hal sederhana dan yang kurang memberi kontribusi besar dapat disepelekan atau dihindari. Namun, bukankah justru dalam hal-hal yang sederhana sebuah kesetiaan dapat teruji? Hidup beriman itu menuntut kesetiaan utuh dan mutlak. Maka dalam situasi apa pun dan tantangan bagaimanapun juga, hendaknya iman tidak tergoncangkan hanya karena rayuan dan godaan yang menggiurkan sisi manusiawi kita. Percaya kepada Allah berarti menyerahkan diri dan hidup hanya kepada-Nya saja, karena Dialah satu-satunya keselamatan kita.

Dalam hidup harian sering kali kita dihadapkan pada sikap untuk tidak setia dengan tugas dan tanggung jawab sebagai orang beriman. Muncul sikap gampangan, mudah putus asa dan kekhawatiran berlebihan. Dalam Tuhan hendaknya kita berani mengatakan, ”Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13).

Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk selalu setia memaknai hidupku dan beriman kepada-Mu Sang Sumber keselamatan dunia. Amin.

Tinggalkan Pesan