maria-manaoag5

Hari baru saja menjadi gelap, baru pukul 18.00, namun hujan sudah turun. Meskipun demikian sekitar 300 orang tetap mengarak Patung Santa Maria Ratu Rosari Manaoag keluar dari Katedral Santo Yosef Pontianak dan berjalan sekitar 750 meter melewati Jalan Pattimura, Jalan Zainudin Jalan Kartini, Jalan AR Hakim, dan kembali ke katedral.

Manaoag, Pangasinan, 200 km utara Manila, adalah salah satu tempat ziarah paling terkenal di sebuah puncak bukit di Manaoag yang banyak dikunjungi di Filipina. Sejak tahun 1614, tempat ziarah itu dijalankan oleh Ordo Dominikan di bawah Keuskupan Agung Lingayen-Dagupan.

Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag dipandang sebagai pelindung orang sakit, pembela kaum yang tak berdaya, serta  penderma bagi orang miskin. Setiap tahun, ribuan peziarah dan devosan datang ke tempat ziarah itu. Mereka melakukan prosesi dan Doa Rosario pukul 4 pagi yang diikuti Misa pukul 5 pagi setiap Sabtu pertama. Pesta Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag dirayakan di Filipina setiap Rabu ketiga setelah Paskah.

“Umat Pontianak masih antusias dengan tradisi ini. Terbukti meski hujan, mereka masih mau berjalan sambil mendaraskan Salam Maria. Memang umat diminta untuk berdoa Rosario sepanjang prosesi itu,” kata Irwan Manik Raja OP dari Dominikan Awam Palapa, Pontianak, kepada PEN@ Katolik baru-baru ini mengenang peristiwa pertama di Keuskupan Agung Pontianak di Bulan Rosario baru lalu.

Memang tidak semua yang diharapkan hadir bisa datang dalam Misa dan prosesi hari itu, lanjut Irwan, “namun kami sudah senang, karena ini adalah perarakan pertama yang kita buat keliling di jalan raya.” Bahkan, lanjutnya, Pastor Paroki Katedral Pontianak meminta agar prosesi itu bisa dijadikan agenda tiap tahun.

Menurut prior Dominikan Awam Regio Pontianak Yulita Maria Maya Rumsari OP, prosesi patung Bunda Maria Manaoag itu untuk mengingatkan kepada orang-orang di sekitar, khususnya umat Katolik, bahwa Oktober adalah bulan Rosario, saat kita menghormati Bunda Gereja.

“Banyak orang mengabaikan bulan-bulan saat kita diminta untuk lebih banyak berdoa Rosario. Saya berharap perarakan itu menjadi rutin bahkan menjadi tradisi bagi umat Katolik di paroki lainnya,” kata anggota Dominikan Awam itu seraya berharap agar bukan hanya para imam OP yang semangat menjalankan proses seperti itu tetapi juga para mam dari kongregasi lain. “Bukankah Bunda Maria adalah bunda kita bersama?” tanya Maya.

Dia juga senang melihat perarakan itu tetap berjalan walau hujan. “Hujan tidak menyurutkan langkah kaki untuk terus menjalani prosesi itu,” jelas ibu Maya yang mengaku terus berupaya meneladani kekuatan dan ketabahan Bunda Maria, “walau saya belum bisa seperti Bunda.”

Bunda Maria adalah contoh perempuan yang tangguh, tegasnya, dan “meneladani Bunda Maria adalah harga mutlak seorang anggota OP. Bunda Maria adalah sosok pendoa. Yesus selalu mendengar doa ibunya. Bunda Maria sabar mendengarkan keluhan kita.”

Yulius Christhoforus Darmo Urada OP dari Tanjunghulu Pontianak memang tidak bisa hadir dalam prosesi itu, namun dia merasa momen itu bagus dan penting bagi umat Katolik di Pontianak khususnya, dan umat Katolik di Kalbar pada umumnya. “Mesti ada yang memulai dan harus pula dimanage dengan baik dan kontinu,” katanya.

Prosesi tanggal 8 Oktober itu diawali dengan Misa yang dipimpin Pastor Johanes Robini OP dengan konselebran Pastor Joseto Bernadas OP dari Surabaya, Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak Pastor Pius Barces CP, dan dua imam dari Ordo Hamba-Hamba Santa Perawan Maria yakni Pastor Orlando Morales OSM dan Pastor Thadeus OSM. (paul c pati)

maria-manaoag1maria-manaoag3maria-manaoag2

Tinggalkan Pesan