romo-lorens-noi-pr-saat-pimpin-misa

Dua puluh empat tahun silam, tepatnya 12 Desember 1992, gempa tektonik dan gelombang tsunami meluluhlantakan Pulau Flores. Bencana yang ditetapkan sebagai bencana nasional oleh Presiden Soeharto kala itu menelan ribuan jiwa. Dan ribuan jenazah itu dikuburkan secara massal di Pekuburan Umum Iligetang Paroki Thomas Morus Keuskupan Maumere.

Mulai saat itu, setiap tanggal 2 November dirayakan Misa Arwah di komunitas abadi itu. Tanggal 2 November 2016, ribuan umat Katolik dari berbagai paroki di Kota Maumere datang juga menghadiri Misa Arwah yang dipimpin Kepala Paroki Thomas Morus Maumere Pastor Laurens Noi Pr.

Dalam homili, pastor asal Bajawa itu mengatakan bahwa umat Katolik di Kota Maumere tidak takut mati karena peti jenazah sudah disiapkan. Alasannya, lanjut imam itu, “Ketika saya berkeliling kota Maumere saya melihat ada tulisan ‘Di Sini Jual Peti Jenazah.’ Ini berarti umat saya tidak takut mati, karena persiapan sudah ada,” ujar Pastor Lorens disambut gelak tawa umat yang hadir.

Imam itu memang meminta umatnya untuk tidak takut mati, namun bekerja terus seolah-olah mereka akan hidup puluhan tahun lagi dan berdoa seolah-olah hari ini atau esok mereka akan mati. “Sebenarnya kita tidak perlu takut mati, karena setiap tidur malam itu adalah latihan untuk mati,” kata imam diosesan itu.

Selain itu, Pastor Lorens mengingatkan umat yang masih berziarah di dunia untuk tidak melupakan arwah keluarga mereka yang telah mendahului mereka. “Kita juga berdoa untuk kebangkitan para arwah agar bisa masuk surga. Demikian pun kita yang masih hidup hendaknya bangkit dari dosa dan kejahatan menuju jalan yang kudus.”

Mumpung masih diberi waktu untuk bernafas, lanjut imam itu, hendaknya “melalui kata-kata kita meneguhkan orang lain dan dengan tindakan kita memberikan harapan bagi sesama yang lain.”

Di akhir Misa, Pastor Lorens mengumumkan bahwa uang intensi Misa arwah tahun lalu dan tahun ini adalah untuk pembangunan kapela dan sakristi di pekuburan terbesar di Kota Maumere itu. “Kita akan minta bantuan pemerintah daerah Kabupaten Sikka untuk pembangunan kapela dan sakristi di tempat ini dan sebuah lampu besar tanpa pulsa,” tegas imam itu.(Yuven Fernandez)

Tinggalkan Pesan