docat-12

Paus Benediktus XVI mempersembahkan kepada orang muda Katolik (OMK) Katekismus OMK (YOUCAT) dan dalam World Youth Day (WYD) di Krakow, Polandia, Juli 2016, Paus Fransiskus mempersembahkan Katekismus OMK yang berisi Ajaran Sosial Gereja (DOCAT).

Tanggal 6 Oktober 2016, saat berlangsung Indonesian Youth Day di Emmanuel Amphiteather Catholic Youth Centre Lotta, Minahasa, Sulawesi Utara, Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Pius Riana Prabdi meluncurkan DOCAT Indonesia.

Buku terbitan Kanisius degan judul “DOCAT Indonesia, Apa yang harus dilakukan, Ajaran Sosial Gereja” setebal 320 halaman itu dibagikan gratis kepada semua OMK peserta IYD 2015. Saat itu, ketua Komisi Kepemudaan KWI menegaskan buku itu sebagai bacaan wajib bagi OMK. “Jangan menyebut diri OMK, jika tidak mendalami buku ini!”

Untuk mengetahui lebih jauh tentang asal usul dan target DOCAT Indonesia, yang dipercayai mampu membantu OMK melihat dunia sekitar dengan segala keprihatinan serta mengubah diri, lingkungan dan dunia, Paul C Pati dari PEN@ Katolik atau penakatolik.com menemui dan mewawancarai Vikjen Keuskupan Surabaya Pastor Agustinus Tri Budi Utomo Pr. Pastor yang akrab dipanggil Romo Didik adalah Moderator YOUCAT Center Indonesia. Dia juga hadir dalam IYD 2016 di Manado.

PEN@ Katolik: Mengapa YOUCAT Center Indonesia berpusat di Surabaya dan mengapa Pastor menjadi moderatornya?

PASTOR AGUSTINUS TRI BUDI UTOMO PR: Yang pertama datang ke YOUCAT Pusat di Jerman adalah OMK dari Keuskupan Surabaya. Mereka lalu kembali membawa misi untuk menyebarkan harapan Paus Benediktus XVI, agar anak muda sebagai harapan Gereja tahu akan imannya, sementara bahasa Katekismus universal begitu teologis yang justru membuat anak-anak muda menjaga jarak dengannya. Padahal menurut Santo Thomas Aquinas, tiga hal yang diperlukan mendapatkan keselamatan manusia adalah “tahu apa yang harus dipercaya, tahu apa yang harus diinginkan, dan tahu apa yang harus dilakukan.” Paus Benediktus mempersembahkan Katekismus OMK agar anak muda tahu apa yang mereka harus percaya.

Namun YOUCAT, menurut saya, belum kontekstual bagi OMK lokal. Mungkin itu okay untuk OMK Eropa, tetapi belum untuk OMK kita. Maka, saya terdorong untuk mendukung 12 OMK dari Surabaya dan Jakarta yang antusias dan yang kembali dari Kantor Pusat YOUCAT di Jerman dan peluncuran DOCAT dalam WYD di Polandia. Kita pun buat YOUCAT Center Indonesia. Harapannya agar YOUCAT itu kontekstual dengan dunia OMK Indonesia. Kita pun mulai di Surabaya. Kita ajari para guru agama supaya mereka belajar dari YOUCAT.

Kita mulai dengan modul-modul study guide. Pertama menerjemahkannya kemudian memodifikasi atau membangun model study guide untuk OMK Indonesia dengan latar belakang budaya dan pola pikir Indonesia. Ini berkembang dan disambut antusias oleh OMK dari berbagai keuskupan. Kita bantu menyebarkan cetakan Kanisius itu dengan target OMK paroki dan guru-guru agama, karena kurikulum PAK yang selama ini diajarkan kepada anak-anak tidak katekismus banget. Mestinya guru-guru agama berbasis YOUCAT.

Bagaimana kemudian muncul DOCAT?

Paus Fransiskus tipikal sekali dengan visi pastoral yang sangat socio pastoral, lalu implikasi ke kepedulian, belas kasih, dan akhirnya terdorong mengajarkan Ajaran Sosial Gereja (ASG) bagi OMK. Maka Paus Fransiskus mempersembahkan buku lain yang berisi ASG yakni DOCAT. Buku itu telah diluncurkan dalam WYD di Krakow, Polandia. Waktu itu YOUCAT Center Indonesia mengirim 20 anak ke Krakow untuk jadi relawan peluncuran DOCAT.

Memang untuk konteks Indonesia, DOCAT akan sangat melengkapi, karena melanjutkan YOUCAT. Kalau kita sudah tahu apa yang dipercaya, sekarang tahu apa yang dilakukan. Dengan demikian kita tahu bagaimana melakukan. Itu adalah ASG. Maka prinsip-prinsip antropologi Kristiani dan isu-isu moral sosial digarap dalam DOCAT.

Apa target YOUCAT Center Indonesia sekarang?

YOUCAT Center Indonesia mempunyai target paling tidak mencari sponsor dengan target mencetak 100.000 buku DOCAT dan YOUCAT untuk disebarkan ke OMK seluruh keuskupan di Indonesia, karena karena masih banyak OMK, juga pastor, belum terjamah oleh YOUCAT. Dengan sponsor itu kita harapkan OMK bisa membelinya dengan mudah dan murah seharga Rp. 20.000 per buku. Tidak gratis tetapi murah, supaya semakin tersebar.

Di Surabaya kita sudah buat YOUCAMP yakni kampus untuk YOUCAT. Harapannya agar aktivis YOUCAT belajar mendalami YOUCAT itu sendiri. Kita akan membentuk semacam kursus dan studi bareng yang didampingi para imam, agar ketika mereka berkatekse mereka sudah punya landasan teologisnya dan tidak grogi, karena punya kepercayaan diri dan pengetahuan lebih. Saat ini sistemnya sudah terbuat dan akan dimulai tahun depan dari Surabaya.

Apa target dalam IYD 016 di Manado?

Target dalam IYD 2016 ini adalah DOCAT. Maka DOCAT Indonesia diluncurkan dalam IYD di Manado. “DOCAT Indonesia, Apa yang harus dilakukan, Ajaran Sosial Gereja” diterbitkan oleh Komisi Kepemudaan KWI bekerja sama dengan Penerbit PT Kanisius bersama dengan tim penerjemahnya. Terjemahan yang sudah dibuat oleh tim dari Komisi Kepemudaan KWI yang dikoordinir oleh sekretaris eksekutifnya Pastor Antonius Haryanto Pr dan Tim Kanisius lalu dikoreksi oleh YOUCAT Center Indonesia dan diluncurkan.

Bagaimana mengukur bahwa OMK mampu menyerap, tahu dan melakukan ASG?

Kita pesimis dengan metode membaca, maka kita meng-improve metode-metodenya dengan medsos dengan modul-modul sederhana. Kebetulan YOUCAT Center Indonesia memiliki anak-anak yang pandai program dan aplikasi, maka kita berharap akan mengajar YOUCAT dan DOCAT kepada anak-anak muda dengan Youtube. Program  itu akan kita mulai tahun depan.

Sejauh mana Anda percaya program itu akan kena bagi OMK?

Hanya 50 persen. 50 persen OMK kita rindu dan haus, minimal untuk apologetic, untuk membela diri, untuk memberi argumentasi dan untuk mempunyai prinsip-prinsip. Itu yang kelihatan sejauh ini. Sedangkan 50 persen yang lain itu pasif. Maka, sekarang kita berupaya menguatkan yang antusias lewat sistem kelompok sel untuk menyerbu 50 persen yang pasif.

Ada yang sudah mulai merancang aplikasi, sehingga kalau satu orang mempunyai dua teman lain, segera di-upload informasi kedua teman yang harus dirangkul itu. Nanti itu direspon, sehingga ada kebanggaan, ada progress, dan itu terdeteksi oleh aplikasi. Aplikasi itu kita hubungan dengan kelompok-kelompok lain. Aplikasi itu akan juga berisi sumber pengetahuan yang bisa diakses.

Memang target kita  lima tahun adalah di setiap keuskupan sudah ada pusat untuk YOUCAT dan DOCAT, sehingga ada motor di setiap keuskupan yang nanti bekerja sama dengan komisi kepemudaan, komisi remaja dan komisi kateketik di keuskupan masing-masing.

Program in diharapkan sudah diluncurkan tahun depan untuk bisa diakses. Dengan demikian kita akan tahu berapa ratus ribu anak yang sudah pegang DOCAT dan yang sudah membacanya. Targetnya membaca dan mencoba membagikan seperti harapan Paus Fransiskus agar OMK membaca, membagikan, lalu menemukan jiwa-jiwa baru, kemudian menghayati dan mempraktekkannya dalam hidup. Lima tahap ini ada dalam aplikasi itu.

Sejauh mana pendekatan dengan para uskup?

Kita baru mendekati Komisi Kateketik dan Komisi Kepemudaan KWI serta Ketua Presidium KWI. Jadi kita mulai dengan Komisi Kateketik dengan dukungan Komisi Kepemudaan. Nanti, kalau aplikasi ini sudah jadi kita akan perkenalkan dalam konferensi para uskup, sehingga para uskup pun bisa menggunakan dan berkomunikasi dengan OMK.

Diharapkan agar dengan aplikasi ini, OMK yang menghadapi masalah share masalahnya ke semua OMK dan semua OMK membantu dia bersama-sama, sehingga terbangun solidaritas iman. Dan mereka akan membagikan juga pengalaman mereka kalau mereka menghadapi persoalan seperti itu.

Komisi Kepemudaan KWI lewat ketuanya Mgr Pius Riana Prapdi telah memperkenalkan dan meluncurkan DOCAT dengan jargon “Orang Muda Katolik Malu Kalau Belum Baca DOCAT.” Namun belum menggigit karena belum dideskripsikan apa pentingnya DOCAT.

Bagaimana pastor tertarik dengan YOUCAT dan DOCAT?

Ketika masih Vikep di Keuskupan Surabaya saya membayangkan bahwa di zaman dahulu seorang misionaris sudah bisa menjalankan tiga tugas Kristus, “Nabi Imam dan Gembala” meskipun wilayah pelayanannya sangat luas. Tapi sekarang, meski pastor lebih banyak, yang dikerjakan hanya pengudusan, tidak lagi mengajar, tidak lagi membangun paguyuban. Membangun pun menjadi sangat struktural yakni lewat DPP. Sangat organisatoris.

Sekarang, hampir menjadi gejala umum bahwa umat kita sangat rapuh dalam hal pengetahuan tentang iman dan katekese. Bagaimana ya, saya berpikir. Nah, di situ dan pada waktu itu muncul sebuah kerinduan. Memang sudah terbit kompendium katekismus, tetapi itu tetap sesuatu yang sulit atau berat. Lalu bagaimana untuk OMK? Ini tantangan terbesar, katekese untuk OMK.

Dalam kerinduan itu, Paus Benediktus meluncurkan YOUCAT. Saya pun merasa, wah ini poin untuk menjadi gerakan. Pada waktu perjalanan itu, saya menjadi Vikjen Keuskupan Surabaya. Sat itu seorang anak muda dari Blitar, bernama Nadia, ikut Asian Youth  Day di Korea. Di sana dia mengenal YOUCAT. Dia pun coba searching di google dan membaca tawaran untuk apply ke pusat YOUCAT di Jerman. Dia coba dan ternyata dia lolos.

Lalu, bagaimana terbentuknya YOUCAT Indonesia?

Pulang dari Jerman, Nadia ketemu saya dan saya langsung tanya bagaimana biayanya, karena itu yang pertama. Dia mengatakan mendapat sponsor, mamanya sendiri. Saya pun jawab, Ok kalau begitu. Maka, kita membuat surat rekomendasi keuskupan yang dia minta. Nadia pun sampai di sana. Di sana dia tinggal tiga bulan dan pulang membawa antusiasme luar biasa. Saya melihat dia figur yang cocok. Retorikanya bagus. Dia punya kemauan kuat sekali. Manajemen waktunya pun bagus. Meskipun kerja, dia tetap ikut kursus Kitab Suci. Dia terpanggil betul untuk itu.

Nadia lalu mengumpulkan teman-temannya. Kebetulan, di Paroki Redemptor Mundi Surabaya, yang waktu itu dipimpin Pastor Andras Kurniawan OP, dia memfasilitasi sekelompok anak muda yang haus akan pengetahuan iman dengan membuat Canisius Cathecism Club (CCC). Karena saya melihat wadah itu sudah cukup, maka tidak usah mencari orang baru lagi. Anak-anak CCC saja yang kita rekrut dan menjadi motor YOUCAT Center Indonesia.

Pusatnya di Surabaya tapi ada anggotanya di Jakarta, yang semuanya peserta AYD di Korea. Mereka termotivasi ketika di Korea. Mereka pun gabung dan menjadi embrionya. Jakarta dan Surabaya. Sayang waktu itu mereka tidak punya dukungan hirarki. Mereka tidak punya akses kuat untuk ke uskup. Karena mereka lalu memutuskan Surabaya sebagai pusatnya. Kebetulan saya di hirarki dan Uskup Surabaya sangat mendukung, maka pelindungnya adalah Uskup Surabaya.***

docat1

docat-6

docat-10

docat-13

1 komentar

Tinggalkan Pesan