31-okt-kwi-r-702x336

PEKAN BIASA XXX (H)
Santo Gaetano Errico; B. Michaelis Rua

Bacaan I: Flp. 1:18b-26

Mazmur: 42:2.3.5bcd; R:3a

Bacaan Injil: Luk. 14:1.7-11

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehor­matan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: ”Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan

Orang-orang Farisi dalam hidupnya hanya sibuk mencari penghormatan dan pujian dari orang lain. Itulah satu-satunya hal yang dikejarnya, yakni pencitraan diri. Orang semacam ini akan merasa terancam kalau ada orang lain yang lebih baik dan lebih menonjol dari dirinya. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan bahkan kalau memungkinkan akan menghancurkan orang yang dianggap sebagai saingannya. Orang semacam ini tidak akan pernah damai dalam hidupnya. Guna melindungi dirinya, Ia  membangun kelompok kecil di sekitarnya dan bersekongkol dengan mereka untuk membangun benteng pertahanan diri.

Paulus memperlihatkan kepada kita bagaimana hidup yang penuh dengan sukacita: ”Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Fil. 1:21-22) Hidup seorang yang penuh sukacita adalah hidup yang berbuah. Buah yang dimaksudkan oleh Paulus tentunya adalah belas kasih dan pelayanan kepada sesama.  Situasi orang yang semacam ini tidak akan pernah punya kegelisahan. Ia akan merasa nyaman dan damai dengan hidupnya. Dia tidak pernah mengejar dan mencari-cari penghormatan dan pujian atas perbuatannya. Ia melayani sesamanya karena hatinya tergerak oleh belas-kasihan.  Itu saja, tiada yang lain.

Ya Tuhan, dalam hidup ini kadang mataku tertutup. Aku terjerat oleh ambisi dan keserakahan untuk mendapatkan sanjungan di mana-mana. Bantulah aku agar menjadi manusia yang rendah hati; yang selalu mengusahakan kasih dan mengutamakan kebaikan bersama daripada nama baik diri sendiri. Amin.

Tinggalkan Pesan