pemungut-cukai-berdoa

PEKAN BIASA XXX (H)
Peringatan Wajib Santo Yohanes Kapestrano;
Para Suster Ursulin dari Valenciennes

Bacaan I: Sir. 35:12-14.16-18

Mazmur: 34:2-3.17-18.19.23; R:7a

Bacaan II: 2Tim. 4:6-8.16-18

Bacaan Injil: Luk. 18:9-14

Sekali peristiwa, Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain: ”Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan

Dalam pengajarannya, Paulus memberikan gambaran bahwa kehidupan itu adalah sebuah pertandingan. Pertandingan di dalam diri kita, antara kedagingan melawan keutamaan Roh. Paulus sendiri menunjukkan apa yang lebih penting dan harus menang dalam pertandingan itu, yaitu iman. ”Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7). Semua itu terjadi hanya karena Tuhan sendirilah yang mendamping dan menguatkan Paulus. Sebuah pengakuan dan sikap batin yang penuh kerendahan hati.

Sungguh berbeda dengan sikap yang digambarkan oleh Yesus dalam diri orang Farisi. Dalam doanya ia malah meninggikan dirinya di hadapan Tuhan. Ia menganggap dirinya lebih baik dan benar daripada yang lain. Ia melakukan segala kewajiban hidup rohani agar merasa lebih dari yang lain.

Hidup rohani semacam orang Farisi bukanlah suatu sikap yang muncul dari rasa bakti, hormat dan ketulusan hatinya kepada Allah. Mereka melakukan dengan tepat dan tanpa salah semua kewajiban rohani hanya semata demi kepuasan dirinya saja. Inilah sikap batin yang tidak tepat dalam hidup rohani; kita melayani diri kita sendiri, bukannya melayani Allah.

Ya Allah Putra, Engkau menjadi manusia seperti aku. Namun, Engkau tiada pernah terjamah oleh kedosaan. Engkau Anak yang sungguh tunduk pada kehendak Bapa-Mu. Bantulah aku agar aku pun mampu menunjukkan kesetiaan seorang anak pada Bapanya. Amin.

Tinggalkan Pesan