fire-earth

PEKAN BIASA XXIX (H)
Santa Maria Bertilla Boscardin; Santa Magdalena dari Nagasaki Santa Irene dari Portugal, Santa Maria – Theresia Soubiran

Bacaan I: Ef. 3:14-21

Mazmur: 33:1-2.4-5.11-12.18-19; R:5b

Bacaan Injil: Luk. 12:49-53

Pada suatu ketika, Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: ”Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus me­nerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”

Renungan

”Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk. 12: 51).  Ajaran yang diberitakan Yesus memang akan membawa pertentangan antara orang yang hidupnya mau diatur oleh Tuhan berhadapan dengan orang yang mau mengatur hidupnya sendiri. Apalagi orang pada zaman ini merasa berkuasa, kuat dan mempunyai wewenang, kalau bergantung pada Tuhan seolah manusia itu menjadi lemah dan tidak berdaya. Mereka tidak mau bahwa Allah terlalu banyak campur tangan dengan hidup mereka. Mereka sangat percaya kalau mereka mau bekerja keras sekuat tenaga, pasti semuanya dapat mereka raih dengan gemilang.

Dalam bacaan kedua, Paulus mendoakan umat di Efesus agar batin mereka dikuatkan dan diteguhkan dalam Roh sehingga kasih Allah sungguh melimpah dalam hati mereka. Pengalaman kasih Allah merupakan dasar mutlak bagi hidup jemaat beriman supaya hidup mereka sungguh sepadan dengan panggilan mereka, yaitu kemuliaan Allah.

Sadarkah kita bahwa di satu sisi, kita mempunyai kekuatan, namun di sisi lain, kita pun mempunyai ketergantungan yang penuh akan Allah yang Maharahim.

Bapa dalam Kerajaan Surga, sering kali aku hanya menyebut nama-Mu kala semuanya menjadi gelap dan pengap. Aku lupa untuk selalu membawa-Mu dalam setiap napas hidupku. Biarlah Engkau menjadi detak jantung hati aku sehingga Engkaulah yang menjadi penentu segalanya. Amin.

Tinggalkan Pesan