rs171

PEKAN BIASA XXIX

Peringatan Wajib Santo Ignatius dari Antiokhia, UskMrt (M)

Bacaan I: Ef. 2:1-10

Mazmur: 100:2-5; R:3b

Bacaan Injil: Luk. 12:13-21

Sekali peristiwa Yesus mengajar banyak orang. Salah seorang dari mereka berkata kepada Yesus: ”Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”  Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka: ”Ber­jaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang ber­limpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: ”Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Renungan

Dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus, Paulus memberikan kesaksian tentang hidupnya. Dahulu, Paulus adalah seseorang yang hidup di bawah kuasa hawa nafsu daging, menuruti kehendak daging dan pikiran yang jahat (bdk. Ef. 2:3). Namun, karena rahmat kasih Allah yang besar, maka kini ia telah diselamatkan. Keselamatan yang membuat hidupnya berada dalam kelimpahan kasih karunia Allah. Kasih Allah-lah yang telah menjadi kepenuhan dan kepuasan dalam hidup Paulus. Tiada hal lain yang dapat menggantikan semua itu.

Dengan lebih tegas, Yesus mengajarkan kepada orang kaya yang bodoh: ”… walaupun  seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu” (Luk. 12:15). Harta bukanlah Sang Penyelamat. Harta adalah pemberian dari Sang Penyelamat agar hidup manusia di dunia dapat berlangsung baik dan sejahtera. Jadi, janganlah membalikkan kenyataan tersebut. Harta bukanlah pemberi kebaikan dan kesejahteraan. Dengan demikian, manusia pun dapat merasakan kebaikan dan kesejahteraan tanpa harus berharta banyak. Kebaikan dan kesejahteraan yang sesungguhnya terletak dalam Sang Pemberi berkat itu, yaitu Allah.

Allah, sumber segala berkat, Engkau menyadarkan aku bahwa hidupku berasal dari-Mu dan kembali kepada-Mu. Semoga aku selalu berada pada-Mu karena hanya Engkaulah yang dapat memuaskan dahagaku. Amin.

Tinggalkan Pesan