uskup-manado-sambut-jenasa-pastor-yori

Setelah semalam disemayamkan di Gereja Katolik Stella Maris Bitung, Sulawesi Utara, jenazah Pastor Yori Yakobus Sandehang Pr dibawa untuk disemayamkan di Gereja Katedral Manado di pagi hari pukul 09.00, 17 Oktober 2016. Jenazah dilepas oleh Wakil Walikota Bitung Mourits Mantiri disaksikan Wakil Bupati Kepulauan Talaud Petrus Simon Tuange, Sekda Kota Bitung Malton Andalangi serta sejumlah pejabat dan pegawai setempat.

Pastor Yori telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pembangunan di Kota Bitung, kata Mourits Mantiri seraya menambahkan bahwa Pastor Yori “telah mengambil bagian dalam tanggung jawab yang besar, memberikan pembinaan karakter dan spiritual bagi para migran dan pelaut.”

Pendampingan bagi migran dan pelaut menjadi tugas dan tanggung jawab kita, dan “Pastor Yori sudah mengambil bagian dalam tanggung jawab itu,” lanjut wakil walikota yang mengatakan dirinya dan seluruh masyarakat menyampaikan turut berduka cita. “Segala sesuatu yang telah ditinggalkan adalah sesuatu yang terbaik yang sudah diberikan kepada Kota Bitung,” ujar Mourits.

Wakil Bupati Kepulauan Talaud Petrus Simon Tuange juga menegaskan bahwa umat sangat membutuhkan Pastor Yori. “Tapi mana mungkin Tuhan tidak tahu, kalau umat membutuhkan? Kita harus menerimanya. Yakinlah bahwa Tuhan punya rencana dengan peristiwa yang indah dengan peristiwa ini.”

Umat Paroki Stella Maris Bitung mengenang almarhum sebagai sosok yang ramah, tanggung jawab dan kreatif. Mewakili umat paroki itu, Yohanis Pantau mengatakan bahwa umat sangat kehilangan dengan kepergian almarhum, namun mereka yakin Tuhan punya rencana yang indah atas peristiwa ini.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada keluarga yang menerima kenyataan ini. Saya bangga, akan imam ini. Saya percaya, akan lahir Yori-Yori kecil yang akan melanjutkan karya pelayanannya,” kata Yohanis.

Ketika menerima jenazah Pastor Yori di Katedral Manado, sekitar pukul 10.30, Uskup Manado Mgr Josef Suwatan MSC mengatakan bahwa Almarhum Pastor Yori adalah sosok imam yang memberikan dirinya secara penuh dalam melayani umat.

 

“Ia tidak tanggung-tanggung bekerja all out mengikuti Yesus, memberikan diri mengikuti Yesus yang memanggilnya,” kata Mgr Suwatan di katedral, tempat empat tahun silam Pastor Yori ditahbiskan imam dan diberi tugas perutusan oleh Mgr Suwatan ke tengah-tengah umat di Keuskupan Manado.

“Perjalanannya menjadi imam tidak terlalu mulus. Penuh pergumulan sekaligus komitmen yang kokoh dalam mengikuti Yesus. Waktu itu (pertengahan pembinaan di Pondok Emaus) ia minta kepada uskup untuk berhenti. Ada sesuatu yang ingin ia bereskan dalam pergumulan hidupnya. Dan mohon kalau sudah selesai ia melanjutkan lagi sebagai calon imam. Itulah perjalanannya, suatu pergumulan dan niat yang keras untuk menjawab panggilan Tuhan,” jelas Mgr Suwatan.

Menurut Uskup, sebagai imam muda, Pastor Yori adalah sosok imam penuh semangat. Dalam masa pelayanan yang singkat, ia sudah melayani umat di Bitung, Tomohon, dan terakhir di Tentena, Sulawesi Tengah, yang umatnya sementara tumbuh berkembang dengan wilayah yang luas.

“Yesus hanya tiga tahun Ia berkarya. Yori juga belum lama sebagai imam, sekitar empat tahun. Sebagai imam muda, ia dengan semangat memberi diri, mengikuti Yesus berbuat baik di paroki yang luas itu …. tapi, Tuhan menghendaki lain. Marilah kita mensyukuri segala kasih karunia Tuhan yang memberikan kesempatannya untuk menjalani tugas panggilan imam sebaik-baiknya dan ia memberikan dirinya sampai pada akhirnya,” ajak uskup.

Uskup juga mengajak seluruh umat yang hadir untuk memaknai perjalanan hidup Pastor Yori dan peristiwa kematian itu sebagai bahan refleksi bagi kehidupan mereka masing-masing.

“Marilah kita mendoakan dan merenungkan perjalanan pastor muda ini, sebagai refleksi atas panggilan hidup kita masing-masing. Tuhan memberkatinya dan memberkati kita, sehingga kita boleh menerima kepergiannya sehingga akhirnya kita boleh bersama dengan Tuhan Yesus di kayu salib dan boleh mengatakan ‘Bapa sudah selesai’,” kata Mgr Suwatan.

Jenazah Pastor Yori, akan disemayamkan semalam di Gereja Katedral. Pada pukul 20.00 Wita akan  diadakan Misa Requiem, dan pukul 10.00 Wita, besok, dibuat Misa pelepasan untuk diantar ke pemakaman para imam Keuskupan Manado di Kakaskasen, Tomohon.

Almarhum terlahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara dalam keluarga Sandehang-Tukunan. Ia ditahbiskan imam oleh Mgr Suwatan tahun 2012. Setelah ditahbiskan, ia ditugaskan di Paroki Stella Maris Bitung selama tujuh bulan. Selain sebagai pastor pembantu, selama di Bitung, ia juga ditugaskan sebagai imam pendamping para pelaut dalam Komisi Migran Perantau dan Pelaut, membantu Pastor Benny Salettia Pr.

Selanjutnya, ia ditugaskan sebagai Kepala Paroki Santa Theresia Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Di sana, disamping memberi layanan sakramen dan tugas-tugas gereja lainnya, ia juga aktif membangun ekonomi umat melalui usaha peternakan ayam petelur.

Sejak September, ia tidak lagi bisa menjalani tugas pelayanan, akibat jatuh sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Budi Mulia Bitung, sekitar pukul 07.00 di hari Minggu 16 Oktober 2016, setelah menjalani perawatan dan pengobatan di rumah sakit itu sekitar 72 jam. (reynaldus atapunang)

pelesan-jenasah-p-yori
Keterangan Foto: Wakil Walikota Bitung memberikan kata-kata pelepasan di Gereja Katolik Stella Maris Bitung dan Uskup Manado Mgr Josef Suwatan menyambut jenazah Pastor Yori Yakobus Sandehang Pr di Gereja Katedral Manado. (foto: rey)

 

Tinggalkan Pesan