misa-alam-5

Sebuah perayaan Misa dilakukan di alam terbuka yakni di area kebun ketela pohon. Dengan beralaskan tikar seadanya tanpa atap, sekitar 600 orang hadir dalam Misa dengan altar berhiaskan bahan-bahan alami, seperti akar bambu, bunga bambu, rumput, pelepah pisang, kelapa, daun kelapa (blarak), dan aneka tumbuhan lainnya.

“Saya dan Anda mungkin sudah semakin takut dengan tanah. Takut kotor. Saya dan Anda mungkin sudah jauh dari sinar matahari. Takut panas. Saya dan Anda mungki khawatir, nanti kalau hujan bagaimana? Takut air. Sepertinya semua ciptaan Tuhan itu buruk, memusuhi dan menakutkan. Kita percaya mereka adalah ciptaan Tuhan. Dalam Kitab Kejadian tertulis, semua diciptakan baik adanya,” kata Pastor Patricius Hartono Pr.

Di tengah-tengah ciptaan Tuhan yang senantiasa mendampingi kita, bersama-sama kita diajak berefleksi mengenai cara kita berelasi dengan ciptaan Tuhan, lanjut Pastor Hartono dalam Misa di kebun yang berada wilayah Paroki Santo Thomas Rasul Bedono, 9 Oktober 2016.

Dalam Misa berbahasa Jawa itu, Pastor Hartono mengajak umat supaya bersama-sama merasakan kembali berada di antara ciptaan Tuhan, “berada dalam alam semesta yang diciptakan baik adanya.”

Dijelaskan, dalam Misa itu mereka merayakan pesta Bunda Maria Ratu Rosario yang oleh Paus Fransiskus diberi gelar baru yakni Maria Ratu Segala Ciptaan. “Dalam dokumen Laudato Si’, kita semua diajak bersama Bunda Maria memberi bakti, penghormatan dan menjaga segala ciptaan. Saya mengajak Bapak, Ibu dan saudara semua, mari kita mengakui sikap kita yang kurang hormat, kurang cinta pada alam, tanah, matahari, air, dan semua ciptaan di sekitar kita.”

Sebelum Misa dilakukan pemberkatan beberapa tanaman yang kemudian ditanam di sekitar lokasi itu, dan juga didaraskan Doa Rosario dalam empat bahasa secara serentak yaitu Indonesia, Jawa, Latin dan Inggris.

Pastor Hartono menerangkan alasan merayakan Mia di tengah alam terbuka karena yang harus suci tidak harus manusia saja. “Alam semesta juga harus disucikan. Kita bersembahyang tidak hanya meminta berkat tapi juga memberkati. Itu tujuan kita semua melakukan perayaan Misa khusus tidak di dalam gereja,” kata imam itu dalam Misa yang lagu-lagunya berirama keroncong itu.

Dengan mengikuti Misa di alam terbuka, menurut Pastor Hartono, umat diajak tidak berkuasa menata tetapi belajar menerima dan menyesuaikan diri dengan alam ciptaan. “Berelasi dengan alam ciptaan juga dengan belajar, berguru, bukan hanya menata, merencanakan. Kadang menata, merencanakan itu kesombongan manusia. Bisa jadi kesombongan manusia ketika kehilangan keutamaan menerima yang ada dan menyesuaikan, menempatkan diri,” kata imam itu.

Misa itu dirayakan di kebun berkontur miring. Hal itu menurut imam itu dapat dilakukan misalnya dalam cara duduk di kontur tanah yang tak rata. Ada umat yang mendapat tempat teduh, ada pula umat yang kebagian panas terik matahari. Masing-masing belajar menyesuaikan.

“Di sini, kita belajar hidup bersaudara dengan semua ciptaan Tuhan. Tidak setiap saat kita mengalami Misa seperti ini, karena tidak setiap minggu Misa seperti ini. Tapi sekali-dua kali kita perlu belajar meneguhkan hati kalau sikap bersaudara dengan semua ciptaan Tuhan itu perlu kita bawa supaya kita tidak jatuh menjadi orang yang semakin lama semakin merusak,” kata Pastor Hartono.

Kepada umat yang banyak mengenakan busana tradisional itu, Pastor Hartono menegaskan perlunya ibadah yang jujur, “belajar menghargai apa yang ada, maka dari ini, ibadah kita menjadi ibadah yang semakin jujur, tidak kebanyakan tempelan, lah tidak menanam bunga, kok nempel bunga, mengada-ada. Jujur itu, hidupnya dengan bambu ya cinta dengan bambu, menghargai bambu dan lainnya”.

Maka, persembahan dan hiasan altar pada Misa itu berupa hasil-hasil bumi yang dibudidaya umat setempat dan beberapa tumbuhan yang ada di sekitar tempat itu. Usai Misa, umat menikmati masakan tradisional khas daerah setempat.

Umat pun pulang mengenang pesan Pastor Hartono agar Misa itu membuat umat semakin hidup dalam gerakan-gerakan untuk keselamatan keutuhan ciptaan. (Lukas Awi Tristanto)

misa-alam-6misa-alammisa-alam-1misa-alam-10misa-alam-9misa-alam-8

3 KOMENTAR

  1. untuk mbak Agnita Damaria:

    “…. Tidak setiap saat kita mengalami Misa seperti ini, karena tidak setiap minggu Misa seperti ini. Tapi sekali-dua kali kita perlu belajar meneguhkan hati kalau sikap bersaudara dengan semua ciptaan Tuhan itu perlu kita bawa supaya kita tidak jatuh menjadi orang yang semakin lama semakin merusak,” kata Pastor Hartono. (paragraf 10)

    Misa alam berikutnya akan dilangsungkan pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam (20 Nov 2016) dan Perayaan Natal pagi (25 Des 2016)

    Beberapa doumentasi kegiatan serupa di paroki BedoNo dapat dilihat di sini:

    https://www.youtube.com/watch?v=hr1m8HseQ5c
    https://www.youtube.com/watch?v=EzBCxJ4LC34
    https://www.youtube.com/watch?v=PaWy56Behf8
    https://www.youtube.com/watch?v=2ma2qMBq3x0

    Salam.

Tinggalkan Pesan