angkringan-3

“Walaupun kita beda agama, tapi kita itu sama-sama manusia. Dan manusia itu sama-sama mulia,” kata Kepala Tata Usaha Masjid Agung Jawa Tengah Fatquri Busyaeri dalam sebuah acara yang dihadiri lebih dari 150 orang dari berbagai latar belakang agama. “Saya pikir perdamaian adalah satu langkah kecil yang dimulai dari diri sendiri. Ketika diri kita bisa berdamai antara nurani dan naluri, keluarga kita bisa damai, saya yakin masyarakat akan damai, dan dunia pun akan damai,” lanjut  Andi Tjiok dari Konghuchu.

“Damailah nurani, damailah Indonesia,” harap Andi, yang bersama-sama Fatquri menghadiri refleksi Angkringan Perdamaian di pelataran Gereja Kristus Raja, Ungaran, Jawa Tengah. Angkringan Perdamaian itu digelar oleh forum Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) bekerja sama dengan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS).

Ketua Komisi HAK KAS Pastor Aloys Budi Purnomo Pr dalam sambutannya mengatakan, Angkringan Perdamaian diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Perdamaian Internasional dan Hari Doa se-Dunia untuk Perdamaian yang digelar di Assisi  yang sudah digelar 30 tahun diawali oleh Santo Yohanes Paulus II tahun 1986. Peristiwa itu merupakan peristiwa yang berkesan karena para pemimpin agama dari seluruh dunia hadir di Assisi untuk berdoa demi kepentingan perdamaian.

Malam tanggal 29 September 2016 itu, Pastor Budi membacakan puisi yang diambil dari doa yang dibuat Santo Fransiskus Assisi, “Tuhan Jadikanlah Aku Pembawa Damai!”

Perwakilan dari Pelita, Yunatyo Adi dalam sambutannya menyatakan prihatin mengingat akhir-akhir ini perdamaian mulai luntur. Ia melihat ada beberapa kebebasan beragama yang dilanggar dan adanya kekerasan terhadap minoritas. “Ini menjadi keprihatinan kita semua sehingga acara Angkringan Perdamaian ini patut kita apresiasi dan kita bisa diteruskan,” katanya.

Hadir dalam Angkringan adalah Pendeta Rahmat Rajagukguk dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gereformeerd Semarang. Dalam refleksinya ia mengatakan perlunya membangun jembatan bukan tembok demi menciptakan perdamaian. “Menjadi jembatan bagi kita untuk bisa melihat keindahan, untuk bisa melihat keagungan Tuhan, untuk bisa melihat perdamaian,” katanya.

Wiwit, seorang mahasiswi yang sedang kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengatakan bahwa acara Angkringan Perdamaian adalah kegiatan yang sangat penting. “Karena selain menjalin tali silaturahim, kita bisa mengeksplor satu dengan yang lainnya tentang keberagaman,” katanya.

Menurutnya, hal itu bisa membuat masing-masing bisa bertemu meski berbeda, tanpa melihat identitas yang melatarbelakanginya.  “Kiranya hari perdamaian internasional ini mampu setidaknya menyokong rohani, menyokong ruh dan asa kawan-kawan kita yang belum bisa ikut bersama atau yang belum bisa merayakan apa yang kita rayakan malam ini,” katanya.

Seorang pengajar di UIN Walisongo Semarang, Ubaidillah Achmad, mengatakan agama sebagai jalan tradisi kenabian dan kebudayaan harus disuarakan terus untuk menguatkan peran-peran perdamaian di dalam agama karena pada hakikatnya keselamatan tanpa perdamaian itu tidak akan terbangun.

“Perdamaian harus dicapai secara tulus, tidak jatuh kepada imajinasi kosong dan kebutuhan biologis semata tetapi juga harus ada pertemuan dengan Roh Absolut, dengan hati, dengan rasio, sehingga kita tidak terhegemoni oleh nafsu kita yang masuk ke dalam jasad kita yang bertemu dengan imajinasi kosong kita dan masuk dalam jasad kita yang bertemu dengan kebutuhan-kebutuhan biologis kita,” kata lelaki yang biasa disapa Gus Ubaid itu.

Angkringan diramaikan penampilan dari OMK Gereja Kristus Raja Ungaran, stand up comedy, musik blues, dan tembang macapat tentang perdamaian. Di penghujung acara, diadakan doa bersama dengan intensi perdamaian.(Lukas Awi Tristanto)

angkringan-1

angkringan

angkringan-4

angkringan-2

 

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan