jesus_temple

PEKAN BIASA XXVIII (H)
Santo Eduardus; Santa Eustokia; Beato Honoratus Kosminski;
Beata Aleksandrina Maria da Costa

Bacaan I: Ef. 1:1-10

Mazmur: 98:1.2-3ab.3cd-4.5-6; R:2a

Bacaan Injil: Luk. 11:47-54

Sekali peristiwa, tatkala duduk makan di rumah seorang Farisi, Yesus berkata: ”Celakalah kamu, sebab kamu memba­ngun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyang­mu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu mem­benarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.” Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.

Renungan

Kalau kita membandingkan bacaan pertama dengan Injil, kita akan melihat pertentangan yang sangat kentara sekali.  Dalam bacaan pertama, Paulus  meneguhkan umat yang berada di Efesus dengan kata-kata penghiburan. ‘Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu; dari semula kita semua ditentukan untuk menjadi anak-anak Allah; di dalam Dia, kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa’ (bdk. Ef. 1:1-10). Jemaat di Efesus ditempatkan oleh Paulus sebagai milik Allah yang dipelihara untuk sampai pada kekekalan.

Dalam Injil, Yesus tampil dengan garang. Ia mengecam orang-orang Farisi dan ahli Taurat dengan kata-kata yang keras bahkan menyakitkan: ”Celakalah kamu….” Kata-kata ini tidak hanya bernada mengecam, namun juga ada nada mengutuk. Yesus bersikap tegas terhadap kesalahan. Ia tidak pernah mau berkompromi dengan si jahat. Ia menolak. Ia mengusir. Ia mengutuk.

Bagaimana dua bacaan ini dapat menghantar kita pada permenungan atas sikap kita menghadapi kelemahan dan godaan. Kita harus belajar dari guru kita. Setan (kelemahan dan godaan) bukanlah ‘makhluk’ yang dapat diajak berkompromi. Hanya satu yang harus kita katakan pada mereka: TIDAK!

Untuk dapat bertahan melawan godaan dan kelemahan ini, kita tidak bisa sendirian. Kita membutuhkan komunitas yang berani untuk saling mengingatkan dan juga saling meneguhkan dan menguatkan satu sama lain.

Bapa, berikanlah aku saudara-saudari yang senantiasa menjadi sahabat dalam perjalananku. Sahabat yang memberikan penghiburan dan kekuatan di kala aku lelah dan tak berdaya. Namun, juga sahabat yang berani menegur kala aku jauh dari-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan