pinterest

PEKAN BIASA XXVIII (H)

Beato Elias a Succursu Nieves

Bacaan I: Gal. 4:31b–5:6

Mazmur: 119:41.43.44.45.47.48; R:41a

Bacaan Injil: Luk. 11:37-41

Pada suatu ketika, selesai mengajar, Yesus diundang seorang Farisi untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: ”Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.”

Renungan

Yesus berhadapan dengan orang Farisi yang selalu meributkan aturan hukum Taurat yang harus dikerjakan tanpa ketinggalan sedikit pun. Mereka berpikir bahwa merekalah satu-satunya yang benar karena menaati aturan hukum tersebut. Dengan demikian, mereka menuntut orang lain supaya sama dengan mereka, yaitu harus menaati Taurat juga. Mereka begitu mudah menilai sesamanya dari sudut pandang mereka semata dan menerapkan alat ukur mutu manusia dari cara pandang mereka. Oleh karena itu, mereka akan menilai orang lain sebagai kurang baik atau kurang bermutu kalau sejalan atau tidak dengan pandangan dan cara hidup mereka. Mereka hanya membenarkan orang-orang yang sepaham dengan mereka dan hanya bisa menerima dan bekerja sama dengan orang-orang yang berada di lingkungan mereka. Orang semacam ini tidak pernah mau mentolerir keanekaragaman. Mereka senang seragam; semua sama.

Fanatisme senantiasa menaburkan kebencian terhadap perbedaan. Tiada kebenaran atau pun kebaikan di luar ‘kelompok’ mereka. Satu-satunya dan hanya satu yang dapat diterima oleh mereka, yaitu diri mereka sendiri.

Bapa, Engkau telah menciptakan seluruh alam semesta ini dengan beraneka ragam. Segalanya kautempatkan dalam tata ciptaan-Mu. Sungguh amat baiklah seluruh alam semesta ini; semoga aku semakin memahami kebijaksanaan ilahi-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan