pope-peace5

Saat upacara penutupan Hari Doa se-Dunia untuk Perdamaian di Assisi, Italia, yang juga dihadiri perwakilan umat Islam dari Indonesia, yakni Ketua Dewan Pertimbangan MUI dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Paus Fransiskus membuat seruan untuk perdamaian, dengan mengatakan “Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita berpaling kepada Allah dalam doa. Setiap orang bisa menjadi pengrajin perdamaian.”

Terjemahan dari seruan untuk perdamaian dari Paus Fransiskus itu selengkapnya berbunyi:

Seruan untuk Perdamaian dari Paus Fransiskus

Basilika Santo Fransiskus, Assisi

Selasa, 20 September 2016

Kami pria dan wanita dari berbagai agama berkumpul sebagai peziarah di kota Santo Fransiskus. Tiga puluh tahun lalu di tahun 1986, perwakilan-perwakilan agama dari seluruh penjuru dunia bertemu di sini atas undangan Paus Yohanes Paulus II. Itulah pertemuan resmi pertama yang mempertemukan banyak orang untuk menegaskan ikatan tak terpisahkan antara perdamaian yang sangat didambakan dan sikap keagamaan yang otentik. Dari peristiwa bersejarah itu, ziarah panjang dimulai yang menyentuh banyak kota dunia, dengan melibatkan banyak umat beriman dalam dialog dan dalam doa untuk perdamaian. Peristiwa itu telah mempertemukan orang-orang tanpa menyangkal perbedaan-perbedaan mereka, seraya menghidupkan persahabatan antaragama yang sejati dan membantu memecahkan bukan hanya sedikit konflik. Inilah semangat yang menjiwai kami: melaksanakan perjumpaan-perjumpaan melalui dialog, dan menentang setiap bentuk kekerasan dan penyalahgunaan agama yang berusaha membenarkan perang dan terorisme. Namun, di tahun-tahun yang telah berlalu, banyak penduduk tetap terluka akibat perang. Orang tidak selalu memahami bahwa perang merugikan dunia, meninggalkan di dalamnya warisan duka dan kebencian. Dalam perang, semua orang mengalami kerugian, termasuk para pemenangnya.

Kami telah berdoa kepada Allah, seraya meminta agar Dia mengaruniakan perdamaian bagi dunia. Kami menyadari perlunya berdoa terus-menerus untuk perdamaian, karena doa melindungi dan menerangi dunia. Nama Allah adalah perdamaian. Orang yang menyerukan nama Allah untuk membenarkan terorisme, kekerasan dan perang tidak mengikuti jalan Allah. Perang atas nama agama menjadi perang melawan agama itu sendiri. Oleh karena itu, dengan tekad yang kuat, marilah kita menegaskan bahwa kekerasan dan terorisme bertentangan dengan semangat otentik agama.

Kami telah mendengar suara orang miskin, suara anak-anak dan generasi muda, suara perempuan dan begitu banyak saudara-saudari yang menderita akibat perang. Bersama mereka marilah kita katakan dengan keyakinan: Tidak untuk perang! Semoga teriakan derita dari banyak orang tak berdosa tidak terus diabaikan. Marilah kita mendesak para pemimpin negara-negara untuk meredakan penyebab-penyebab perang: nafsu atas kekuasaan dan uang, keserakahan para pedagang senjata, kepentingan pribadi serta dendam atas kesalahan masa lalu. Kami membutuhkan komitmen lebih besar untuk memberantas penyebab-penyebab konflik: kemiskinan, ketidakadilan dan ketidaksetaraan, eksploitasi dan penghinaan atas kehidupan manusia.

Semoga akhirnya musim baru dimulai, saat dunia global bisa menjadi satu keluarga manusia. Semoga kami melaksanakan tanggung jawab kami untuk membangun perdamaian sejati, yang memperhatikan kebutuhan riil individu dan masyarakat, yang mampu mencegah konflik melalui kerja sama yang menang atas kebencian dan mengatasi hambatan melalui pertemuan dan dialog. Tidak ada yang akan rugi kalau kami secara efektif masuk ke dalam dialog. Tidak ada yang mustahil jika kami berpaling kepada Allah dalam doa. Semua orang bisa menjadi pengrajin perdamaian. Melalui pertemuan di Assisi ini, dengan tegas kami memperbarui komitmen kami untuk menjadi pengrajin tersebut, dengan bantuan Allah, bersama-sama dengan semua pria dan wanita berkehendak baik. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

pope-peace1

din-640x411

pope-peace3

pope-peace6

pope-peace8

pope-peace9

pope-peace7

Tinggalkan Pesan