matius-pemungut-cukai-mengikut-yesus

PEKAN BIASA XXV
Pesta Santo Matius, Rasul & Pengarang Injil (M)

Bacaan I: Ef. 4:1-7.11-13

Mazmur: 19:2-3.4-5; R: 5a

Bacaan Injil: Mat. 9:9-13

Pada suatu hari, Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu meng­ikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, ber­katalah mereka kepada murid-murid Yesus: ”Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: ”Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melain­kan orang berdosa.”

Renungan

Sudah menjadi kecenderungan manusiawi, kalau mau membentuk suatu struktur kepengurusan maka mereka yang dicari adalah orang-orang yang memiliki ”track record” yang baik; baik secara moral maupun kemampuan atau keterampilan. Track record yang baik dianggap menjadi jaminan dan punya ‘nilai jual’ bagi masyarakat. Kalaulah ternyata terekrut orang yang punya ‘catatan buruk’ maka orang itu dianggap mencemari kelompok.

Panggilan Yesus kepada Matius memperlihatkan sikap Yesus yang melawan arus kecen­derungan publik seperti di atas. Matius, yang punya catatan jelek di kalangan masyarakat, justru dipanggil dan dipilih Yesus untuk menjadi murid-Nya. Tentu saja Yesus tidak bermaksud untuk mengangkat kejelekannya, tetapi melihat kemungkinan pertobatan yang tulus dalam diri Matius. Yesus lebih melihat kehendaknya untuk mengikuti Dia, dengan kesungguhannya untuk meninggalkan pekerjaan dan cara hidupnya, ketimbang gambaran dan image orang tentang Matius itu.

Paulus juga menyoroti keberagaman orang dan potensi yang ada dalam umat untuk membangun Gereja sebagai Tubuh Kristus. Paulus menulis: ”Kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. … Semuanya itu untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi tugas pelayanan demi pembangunan Tubuh Kristus” (Ef. 4:7.12). Jelas bahwa siapa saja bisa berubah dan berbalik ke jalan yang benar, dan dipakai Kristus untuk menjadi saksi-Nya. Apakah kita dapat mempercayai suatu proses pertobatan dan pembaruan dalam diri sesama kita dengan berbagai potensi yang ada dalam dirinya, ketimbang bertahan dalam suatu gambaran diri, apalagi masa lalu seseorang?

Ya Tuhan, ajarilah aku untuk menyadari kekuranganku dan kuatkanlah aku untuk bertobat dan mengubah diriku menjadi manusia baru. Semoga aku pun lebih terbuka memandang sesamaku dan menghargai apa pun yang baik yang berasal darinya. Amin.

Tinggalkan Pesan