vinha

PEKAN BIASA XXIII (H)
Santo Theodardus; Santo Nikolaus Tolentino

Beato Oglerius; Fransiskus Garate

Bacaan I: 1Kor. 10:14-22a

Mazmur: 116:12-13.17-18; R:17a

Bacaan Injil: Luk. 6:43-49

Yesus menyampaikan wejangan ini kepada murid-murid-nya: ”Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” ”Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya. Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melan­danya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”

Renungan

”Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” demikian kata bijak yang mengingatkan kita bahwa kalau kita menjadi orangtua yang baik maka anak-anak kita pun akan baik adanya, atau kalau orang melihat seorang anak baik adanya, maka orang akan berpikir bahwa tentulah orangtua anak itu baik adanya. Tak heranlah kalau kita sering mendengar kata-kata orang, ”Nggak beda sama bapak/ibunya” entah dalam hal baik ataupun hal jahat.

Yesus pun mengunakan pelukisan yang sama: Dari buahnya kamu akan mengetahui kualitas suatu pohon. Kita diingatkan bahwa baik buruknya tentang diri kita akan diukur orang dari apa yang kita katakan dan lakukan. Karena itu, mawas dirilah kita dengan apa yang kita katakan dan kita lakukan. Hal beriman akan Allah dan akan Yesus, Anak-Nya, tidak sekadar sebuah pengakuan dari mulut, tetapi sebuah pengakuan iman yang mewujudnyata dalam perbuatan. Beriman berarti mendengar dan melakukan kehendak Allah. Paulus juga mengecam cara hidup jemaat di Korintus, yang di satu pihak mengaku dengan mulut beriman akan Allah, tetapi mempraktikkan bentuk-bentuk penyembahan berhala. Apakah mereka akan diselamatkan dengan cara hidup sedemikian? Tentu tidak!

Dalam bulan Kitab Suci Nasional ini, baiklah kita selalu sadar dan terus-menerus bercermin diri: Apakah kita selalu ingin mendengar Sabda-Nya, merenungkannya dan melak­sanakannya dengan sepenuh hati?

Ya Tuhan, buatlah aku senantiasa sadar untuk melakukan apa yang selalu terucap di bibirku, ”Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya”. Amin.

Tinggalkan Pesan