DSCN4560

Selama ini Kampanye Anti Human Trafficking di wilayah-wilayah yang dikenal marak kasus perdagangan manusia seperti di Flores dan Atambua (Timor) menggunakan musik dan lagu dari penyanyi asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Ivan Nestorman. Tema-tema lagunya mengajak saudara-saudari di wilayah NTT untuk lebih baik bekerja di kampung halaman untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga daripada harus merantau ke luar negeri.

“Malam ini dilakukan juga pertemuan yang menampilkan Ivan Nestorman dengan tujuan mengajak semua pihak mendukung pemberantasan perdagangan manusia yang marak di NTT,” kata pegiat kemanusiaan Pastor Leo Mali Pr di sela-sela pagelaran musik bertema “Mama Lekas Pulang” yang digelar di Margasiswa PMKRI, Jalan Sam Ratulangi, Jakarta, 4 September 2016.

Sekitar 300 warga NTT turut hadir, termasuk sejumlah tokoh NTT seperti Sebastian Salang (Formappi) dan Petrus Selestinus SH (Pengacara), serta para pengurus PMKRI, perwakilan Pemuda Katolik dan sejumlah pegiat kemanusiaan lainnya.

Kegiatan itu, jelas Pastor Mali, sengaja dilakukan di pusat kekuasaan negara ini agar memberikan tekanan kepada pemerintah, “karena selama ini pemerintah di tingkat kabupaten di NTT khususnya dan pemerintah pusat tidak memberikan perhatian serius tentang kasus human trafficking. Kasus yang menimpa tenaga kerja asal NTT yang bekerja di luar negeri terhitung Januari hingga sekarang berjumlah 28 orang meninggal dunia yang kemudian dikirim pulang ke kampung halamannya.”

Yang menjadi masalah, kata imam yang getol membela kasus Tibo Cs sepuluh tahun lalu, adalah para pejabat. “Semua orang yang mengetahui hal tersebut hanya diam dan menyaksikan saudara-saudarinya dijual dan dipekerjakan di luar negeri. Kejahatan (perdagangan manusia) ada di depan mata, sementara orang lain hanya melihat tanpa melakukan apa-apa. Itu yang menjadi soal,” tegas imam itu.

Menurut imam itu, hilangnya nyawa orang menjadi keprihatinan tapi yang lebih memprihatinkan lagi, “sesamanya hanya diam seribu bahasa, tanpa melakukan pencegahan apa-apa.” Pastor Leo merasa sangat miris ketika sejumlah pejabat daerah masih mengatakan kasus human trafficking tidak atau belum  merupakan ‘darurat’ padahal, “sejumlah pejabat publik di sana dulu dikenal giat dalam organisasi kemahasiswaan yang membela kepentingan publik.”

Imam asal Belu, Atambua, itu akan meninggalkan Indonesia untuk belajar di Roma, namun dia berjanji akan membuat jaringan kerja sama agar perjuangan itu tak putus. Dia menaruh harapan besar kepada putera-puteri NTT untuk membangun kesadaran agar jangan sampai saudara-saudara dekat jadi korban.

“Sebagai imam Keuskupan Agung Kupang dan sebagai orang Katolik, saya harus melakukan ini sebagai wujud tanggungjawab saya. Maka sebelum jatuh korban lebih banyak atau bertambah, mari bersama-sama mencegahnya,” harap imam itu.

Sebastian Salang mengatakan, gerakan anti human trafficking harus terus disuarakan dan cara mengatasi persoalan ini harus secara sinergi, pemerintah, masyarakat, LSM dan partai politik. “Kita berharap kampanye anti perdagangan manusia tidak hanya sampai di sini tapi terus digemakan,” katanya.

Pegiat politik PDIP Restu Hapsari sepakat dengan Sebastian Salang bahwa persoalan itu harus diatasi secara sinergi. Ditegaskan bahwa partainya pun akan memberikan catatan kepada pemimpin NTT yang adalah PDIP untuk lebih mendorong perlawanan terhadap perdagangan manusia.”

Ketua Pokja Melawan Perdagangan Manusia (MPM) Jakarta Gaby Sola menjelaskan, pihaknya selama ini selalu bekerja sama dengan pihak-pihak yang memberikan perhatian terhadap isu-isu kemanusiaan. “Tanggal 10 Desember 2016, bertepatan dengan peringatan hari HAM Sedunia, kami akan melakukan kampanye kebudayaan yang dibalut dengan pagelaran musik untuk mengajak semua orang agar peduli melawan perdagangan manusia,” katanya. (Konradus R. Mangu)

 

 

Tinggalkan Pesan