the-withered-hand

PEKAN BIASA XXIII (H)
Santa Teresa dari Kalkuta; Santo Laurensius Glustiniani

Bacaan I: 1Kor. 5:1-8

Mazmur: 5:5-7.12; R:9a

Bacaan Injil: Luk. 6:6-11

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: ”Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: ”Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: ”Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Renungan

Seorang Pastor pembimbing pernah dikecewakan oleh anak-anak binaannya ketika mereka ‘bersekongkol’ untuk beramai-ramai dan diam-diam mengunakan HP yang waktu itu dilarang digunakan/pakai secara pribadi (masing-masing memiliki). Pastor itu kecewa karena mereka membiarkan suatu praktik yang bertentangan dengan kebijakan dan kesepakatan komunitas.

Dalam kehidupan bermasyarakat kita, betapa sering orang membiarkan sesuatu yang melanggar hukum dan norma hidup bersama. Suatu pelanggaran yang nyata-nyata menghancurkan dan mencelakakan kehidupan bersama dibiarkan terjadi terus-menerus. Hal sedemikianlah yang dikecam Paulus kepada jemaat di Korintus. Mereka membiarkan, bahkan bermegah dengan sesuatu yang bertentangan dengan cara hidup Injili. Dengan tegas, Paulus mengajak mereka membuang dan melenyapkan cara hidup seperti itu.

Yesus juga tampil dengan sikap yang sama. Ia mengecam cara berpikir dan bersikap orang Farisi yang memutlakkan hukum Taurat dan mengabaikan keselamatan seseorang, dan karena itu berusaha mencari-cari kesempatan untuk menjebak Yesus dengan tuduhan pelanggaran hukum Taurat. Yesus menegaskan bahwa memikirkan dan mengusahakan keselamatan seseorang jauh lebih penting daripada sebuah ketaatan buta terhadap hukum.

Apakah kita cukup bijak dalam menyikapi setiap hukum dan aturan yang ada dalam kehidupan bersama sebagai umat dan anggota masyarakat?

Ya, Tuhan berilah aku teguhan hati dan kekuatan batin untuk berani membatasi hal-hal yang bertentangan dengan hukum-hukum-Mu dalam kehidupan-ku. Amin.

Tinggalkan Pesan