President_Reagan_presents_Mother_Teresa_with_the_Medal_of_Freedom_1985

“Mari saya bicara dengan Ronald!” Dalam rangka penetapan Ibu Teresa sebagai Santa Teresa dari Kalkuta, kesaksian dari Staffan de Mistura tentang “bagaimana Ibu Teresa membuat White House terlibat dalam upaya memberikan banguan ke Juba, sebuah kita di Sudan” muncul di  Vatican Insider, tanggal 4 September 2016. De Mistura adalah utusan khusus untuk Sekretaris PBB untuk Suriah. Dia juga mantan Wakil Menteri Lura Negeri Italia.

Tulisan ini dibuat oleh Andrea Tornielli, wartawan Vatican Insider dari Kota Vatikan. Pastor Albertus Sujoko MSC dari Seminari Hati Kudus Pineleng, Sulawesi Utara, menerjemahkan tulisan itu dan membagikan ke beberapa milis dan PEN@ Katolik mengangkatnya dengan mengganti judul dan menambahkan foto.

Andrea Tornielli

Kota Vatikan

Tahun 1986 sebagian besar umat kristiani di kota Juba sudah terjebak dalam perang, mereka kelaparan dan dalam bahaya kematian. Tentara gerilya mengepung kota itu dan pemerintahan Sudan tidak berbuat apa-apa. Waktu itu De Mistura (Orang Italia) bekerja pada Program Pangan Dunia di Kharthoum, Ibukota Sudan. Sebuah pesawat diperlukan untuk membawa bahan makanan bagi penduduk yang kelaparan, namun tentara gerilya punya senjata rudal penembak pesawat dan mereka sudah menembak jatuh dua pesawat yang penuh bahan makanan.

De Mistura bercerita: “Suatu sore  Ibu Teresa dari Kalkuta datang ke kantor saya di Roma. Saya tidak tahu beliau dan sungguh saya belum kenal beliau. Ibu Teresa ditemani oleh seorang suster bernama Mirtilla yang mengikutinya dari belakang. Ibu Teresa bicara to the point: “Saya ada di sini untuk membantu. Kemarin saya di Castel Gandolfo dan Bapa Suci Yohanes Paulus II mendengar dari BBC tentang Juba dan berusaha untuk membantu. Saya kebetulan akan ke Kenya mengunjungi komunitas susterku, dan saya memutuskan untuk berhenti di Sudan. Apa yang bisa saya buat? Katakan padaku apa persoalan di sana?

Petugas kantor kami menjelaskan kepada Ibu Teresa dan beliau berkata: Terlalu complicated …, mari saya bicara saja kepada Presiden Sudan yang melarang pesawat untuk take off membawa bahan makanan itu, atau saya bicara dengan para gerilyawan itu. De Mistura berkata: Mereka tidak ada di sini. Mereka ada di Amerika sana. Ibu Teresa menjawab: No problem, mari saya bicara dengan Ronald. Ia orang baik. Siapa? (Diplomat itu bingung bertanya). Ibu Teresa menjawab: Ronald Reagan dan isterinya juga. Hubungi mereka dan nanti saya bicara di telpon. De Mistura menggunakan kontak radio dan menghubungi Gedung Putih: Good afternoon, di sini De Mistura dari Program Pangan Dunia. Saya bersama Ibu Teresa dari Kalkuta di sini. Beliau ingin bicara dengan Presiden Ronald Reagan. Terdengar jawaban dari seberang: Ibu Teresa …? Dengar … Napoleon dan Julius Ceasar sedang menelpon mencari Presiden Reagan … tentu saja, tentu … tunggu sebentar, all the best ya …! Orang itu mengusulkan untuk menggunakan saluran resmi sehingga mereka harus menuju Kedutaan Amerika di Roma. Petugas itu juga bertanya kapan terakhir Ibu Teresa bertemu Ronald dan Nancy Reagan. Suster Martilla yang mempunyai semua agenda Ibu Teresa menjawab: Tanggal 7 Februari lalu di New York ketika peresmian Gereja dan Rumah Sakit (Hospice).

 

Tidak lama kemudian terjadi hening menunggu sebentar dan petugas itu berkata: Presiden Reagan ingin bicara dengan Ibu Teresa melalui saluran resmi di Kedutaan Amerika; dan mereka cepat-cepat meninggalkan kantor De Mistura menuju kedutaan. Namun waktu itu kedutaan tutup karena hari libur dan sedang ada pesta. Ibu Teresa tetap memaksa untuk bertemu dengan duta besar karena Ronald Reagan akan menelpon. Semula duta besar tidak percaya, namun karena melihat Ibu Teresa menunggu dengan tidak sabar, akhirnya duta besar mengizinkan masuk. Sementara menunggu telpon, Ibu Teresa meminta semua orang yang ada di situ berdoa rosario. Tidak lama kemudian telpon berdering, duta besar melompat mengangkat telpon dan berkata: “Mr President … ini duta besar … senang bicara dengan bapak Presiden … Ibu Teresa ada di sini, saya akan berikan telpon ini kepada beliau; Ibu Teresa ingin bicara …

De Mistura memberi kesaksian, Ibu Teresa kemudian bicara kepada Ronald Reagan seperti kepada anak sekolah: ‘Now, look here … but … how did you say? … but we need to act … do you promise? … you’ll send me a telex to confirm?

Waktu De Mistura bertanya kepada Ibu Teresa apa yang dikatakan Presiden Reagan, Ibu Teresa menjawab: Ya, ia setuju dan ia akan memaksa Presiden Sudan untuk membiarkan pesawat pembawa bahan makanan itu bisa terbang dengan aman. Dan karena Presiden Reagan sudah dalam perjalanan ke New York, maka ia meminta wakilnya George Bush untuk mengontak Dewan Keamanan PBB dan mengurus permintaan Ibu Teresa. Telegram kepastian dari Presiden Reagan dikirimkan ke Ibu Teresa sebagai jaminannya:

Telex dari Ronald Reagan tiba pagi berikutnya: “I did what you asked me to do Mother Teresa, I sent my deputy, George Bush, he spoke with the Sudanese president, who never ever, ever, tried to stop the plane.”

Akhirnya pesawat itu bisa terbang dengan pengamanan yang ketat, dan pesawat dengan bahan makanan dan Ibu Teresa ada di dalamnya bisa mendarat di Juba. Sejak saat itu Juba tidak lagi dalam pengepungan gerilya, kami dapat menjalankan misi kemanusiaan itu, namun dengan bantuan luar biasa dari iman yang nyata dari Ibu Teresa yang diajarkannya kepada kami. ***

 

 

Tinggalkan Pesan