koq-cabut-bulir-gandum-pada-hari-sabat

PEKAN BIASA XXII
Peringatan Wajib Santo Gregorius Agung, PausPujG (P)

Bacaan I: 1Kor. 4:9-15

Mazmur: 145:17-18.19-20.21; R:18a

Bacaan Injil: Luk. 6:1-5

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: ”Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka: ”Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” Kata Yesus lagi kepada mereka: ”Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan

Sering kali dalam kebersamaan kita berjumpa dengan orang yang punya kedudukan dan peran yang begitu penting, tetapi tampil sedemikian rendah hati (low profile). Akan tetapi, sebaliknya banyak juga dari antara mereka yang sombong, otoriter, dan tak berperasaan; mentang-mentang punya kuasa dan terkenal, orang lain direndahkan dan tidak dianggap. Parahnya lagi, ada juga yang sebenarnya tidak ada apa-apanya, tetapi berusaha tampil seperti orang penting, baik penampilannya, gaya bicaranya maupun gestur tubuhnya. Geli dan muak melihat tingkah orang yang sombong dan sok penting seperti itu.

Paulus menemukan di kalangan umat Korintus orang yang menyombongkan dan bermegah dengan apa yang ada dalam dirinya. Paulus menegur mereka dengan mengungkapkan pengalaman dan kesaksian dirinya dan Apolos, rekan kerjanya, bahwa mereka sebenarnya memiliki lebih banyak hal yang dapat dimegahkan, tetapi mereka tidak memegahkan diri. Paulus mengajarkan suatu sikap rendah hati dalam menghidupi berbagai karunia yang Tuhan telah berikan. Kritikan yang sama juga disampaikan Yesus kepada orang-orang Farisi yang merasa diri lebih hebat dan lebih suci karena setia dan taat pada hukum Taurat. Kenyataan bahwa kesetiaan kepada hukum Taurat hanyalah membawa kesombongan diri dan cenderung mencelakakan orang lain, karena orang lain dinomorduakan/dikesampingkan demi hukum. Bagi Yesus, hukum dibuat untuk manusia, dan Ia, adalah Tuhan atas hari Sabat.

Apa yang kita rasakan dan katakan ketika menyadari bahwa segala yang kita miliki berasal dari Tuhan?

Ya, Tuhan ajarilah dan teguhkanlah aku untuk selalu jujur dan rendah hati di hadapan-Mu dan di hadapan sesamaku. Amin.

 

Tinggalkan Pesan