orang-farisi-dan-yesus

PEKAN BIASA XXII (H)
Beato Ludovikus Yosef Francois, Yohanes Gruyer,
dan Petrus Renatus Raque

Bacaan I: 1Kor. 4:1-5

Mazmur: 37:3-4.5-6.27-28.39-40; R:39a

Bacaan Injil: Luk. 5:33-39

Sekali peristiwa, orang-orang Farisi berkata kepada Yesus: ”Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, te­tapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka: ”Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: ”Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

Renungan

Banyak orang menghindari konflik dengan bersikap kompromistis, tidak berani berpegang teguh pada apa yang benar-benar suatu kebenaran dan lebih memilih ‘jalan aman’ demi menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Akibatnya, banyak hal direlativisir dan disesuaikan dengan situasi dan keadaan.

Paulus memaklumkan dirinya sebagai seorang hamba Kristus, yang sadar dan berusaha agar hidupnya bisa benar-benar dapat dipercaya oleh orang lain. Ia tidak takut menghadapi kemungkinan dihakimi oleh orang lain karena kepercayaan dan karya-karya yang dilakukannya. Hal yang menjadi persoalannya adalah bagaimana ia tetap layak dan mendapat pujian dari Allah sebagai seorang hamba yang setia. Kesaksian Paulus seperti ini memperlihatkan kepada kita betapa suatu keyakinan baru akan Yesus telah mengubah dirinya. Dari kesaksian Paulus ini, kita dapat memahami perkataan Yesus dalam Injil: ”Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” Paulus memberikan kesaksian kepada kita bagaimana seorang rasul benar-benar menghidupi sebuah keyakinan akan Kristus yang mengubah hidupnya menjadi baru, dan setia menghidupinya untuk seumur hidupnya.

Apakah pengenalan dan kedekatan kita dengan Yesus sungguh membawa sebuah kebaruan dalam hidup setiap hari?

Ya Tuhan, berilah aku keberanian dan kesetiaan untuk mengenakan dalam diriku iman akan Yesus sebagai pakaian kesukaanku yang selalu baru bagi tubuhku yang lemah ini. Amin.

Tinggalkan Pesan