into.the_.deep_

PEKAN BIASA XXII (H) 

Santo Pedro Armengol; Santa Verena;

Santa Ruth; Santa Maria Margareta Redi

Bacaan I: 1Kor. 3:18-23

Mazmur: 24:1-2.3-4ab.5-6; R:1a

Bacaan Injil: Luk. 5:1-11

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyu­ruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: ”Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: ”Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyu­ruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menang­kap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: ”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: ”Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun mening­galkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Renungan

Sering konflik suatu organisasi atau komunitas terjadi karena masing-masing orang merasa pendapatnya yang terbaik. Jika demikian, akan tidak mudah mendapatkan jalan keluar yang dapat diterima oleh semua pihak yang berselisih paham.

Bacaan hari ini dengan gamblang mengungkapkan kepada kita apa yang harus dibuat ketika kita mengalami perbedaan pendapat atau pandangan. Santo Paulus mengajak umat di Korintus untuk tidak saling memegahkan diri, tetapi dengan tetap rendah hati melihat segala sesuatu, bahkan diri mereka sendiri, sebagai milik Kristus, seperti juga Kristus adalah milik Allah. Allah haruslah menjadi yang segalanya bagi mereka. Sedangkan dari kisah Injil kita mendapatkan suatu kesaksian bahwa ketika Simon merelakan dirinya untuk mengikuti kata-kata Yesus untuk, ”bertolaklah ke tempat lebih dalam”, maka hasil melimpah didapatnya. Yesus menantang Simon untuk meninggalkan cara berpikir yang dibangun atas pengalamannya, dan sekarang dia harus mengikuti perintah Yesus, sekalipun tidak masuk akal sehatnya. Simon berani mengikuti perintah Yesus dengan imannya. Ia percaya pada kata-kata Yesus.

Beranikah kita mengarahkan hati, pikiran dan kehendak kita pada Sabda Allah dengan konsekwensi meninggalkan apa yang menjadi pegangan hidup kita selama ini jika hal itu bertentangan dengan Sabda Tuhan? Seperti Petrus, kita harus berani, dengan keyakinan bahwa mengikuti perintah Tuhan akan membawa berkat melimpah.

Ya Tuhan, dalam bulan Kitab Suci ini aku mohon, berilah aku Rahmat-Mu agar aku selalu bersedia mendengar Sabda-Mu dan percaya pada perintah-perintah-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan