Malang

Dua belas orang telah diteguhkan menjadi imam dan resmi menjadi bagian dari Gereja setempat. Gereja membutuhkan mereka untuk selamanya, maka mereka diminta setia dan taat dalam mempersatukan umat, meski di tengah risiko ditolak, dianiaya, dibunuh, ditindas dan dibenci.

“Anda harus siap terima segala risiko itu sebagai pengikut-Nya. Anda harus ingat apa yang dipesankan oleh Paus Fransiskus bahwa jadilah imam yang baik. Artinya Anda harus menampakkan wajah imam yang berwajahkan Kerahiman Ilahi. Layani umat dengan wajah Kerahiman Ilahi, termasuk menghadapi umat dengan segala risiko. Imam yang baik itu tidak macam-macam.”

Uskup Emeritus Mgr Fransiskus Xaverius Hadi Sumarto OCarm berbicara dalam homili Misa Tahbisan 12 imam Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini, SVD), Karmel (OCarm), dan diosesan di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dari Gunung Karmel, Ijen, Malang, 25 Agustus 2016.

“Kalian 12 orang diakon, hari ini juga akan saya tahbiskan menjadi imam Allah. Saya diminta menggantikan Uskup Herman Joseph Pandoyoputro OCarm, karena Uskup Herman lagi sakit dan dirawat di rumah sakit,” kata mantan Uskup Malang itu.

Uskup emeritus mengingatkan keduabelas orang itu bahwa yang tidak diutus adalah nabi-nabi palsu, karena mereka tidak dipanggil Allah. Maka, “jadikan diri kalian seperti nabi Yeremia yang dipanggil dan diutus Allah. Gembalakan kawanan domba Allah dengan kasih. Dan tidak dengan kekerasan. Kalian telah ditahbis jadi imam, dan kalian tidak dilepas begitu saja. Kalian akan tetap dibimbing dan dituntun oleh sesama imam seordo atau setarekat.”

Uskup emeritus juga berharap para imam baru itu menjadikan rahmat tahbisan sebagai rahmat Allah yang tidak dimiliki oleh orang lain untuk mewartakan Kabar Baik ke segala penjuru dunia, dan “jangan melalaikan tugas, karya dan perutusan yang diberikan oleh petinggi ordo atau tarekat, termasuk imam diosesan atau projo.”

Dalam sambutannya, Pastor Paulus Nasib Pr yang baru ditahbis menyatakan  ingin merubah nasib, “karena saya sendiri bernama Paulus Nasib yang telah ditahbiskan menjadi imam hari ini.”

Masing-masing keluarga telah menyerahkan salah satu anaknya untuk dipersembahkan kepada Tuhan untuk menggembalakan umat kawanan-Nya, tegas orang tua dari salah seorang imam baru itu. “Kami telah menyerahkan mereka untuk Gereja. Mereka, 12 orang ini, bukan milik kami lagi, melainkan telah menjadi milik Gereja. Untuk itu, tegurlah mereka jika mereka lalai dalam tugas dan karya pastoralnya. Dampingilah mereka, agar mereka tidak meninggalkan rahmat imamat ini.”

Fabianus Adu, salah satu umat Paroki Katedral Malang mengatakan kepada PEN@ Katolik, “menjadi imam itu sangat mahal harganya, maka perlu dijaga dan dipelihara dengan baik, agar umat Katolik pun boleh mempunyai imam yang memiliki jati diri yang bersih.” Dia juga berharap agar para imam baru mengikuti pesan Paus Fransiskus, dan tidak punya kasus.

Para imam baru itu adalah Pastor Heri Kiswanto Sitohang SVD, Pastor Yohanes Weys SVD, Pastor Natalius Suryanto SVD, Pastor Justinus Ferdinando Purba SVD, Pastor Yanuarius Berek Fransiskus SVD, Pastor Yohanes Bosco Didik Prihartono OCarm, Pastor Yohanes Andi Sumarsono OCarm, Pastor Alexander Romualdus Dimas Pelu Alu OCarm, Pastor Yohanes Sri Joni Pasali OCarm, Pastor Stefanus Jemmy Fantaw Pr, Pastor Paulus Nasib Suroto Pr, dan Pastor Oktavianus Chandra Wijaya Lukito Pr. (Felixianus Ali)

Malang1

 

Tinggalkan Pesan