CaravaggioSalomeLondon-300x254

PEKAN BIASA XXII
Peringatan Wajib Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis (M)
Santa Sabina, Martir.

Bacaan I: Yer. 1:17-19

Mazmur: 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17; R:15a

Bacaan Injil: Mrk. 6:17-29

Sekali peristiwa Herodes menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: ”Tidak halal engkau mengambil isteri saudara­mu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melin­dunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: ”Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya: ”Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: ”Apa yang harus kuminta?” Jawabnya: ”Kepala Yohanes Pembaptis!” Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: ”Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya

Renungan

Orang yang berbuat baik dan benar biasanya akan disenangi banyak orang. Tetapi menjadi ironi besar bahwa ketika seseorang membela kebenaran dan menyatakannya dengan jujur dan berani, tidak semua orang menyukainya. Bahkan orang tersebut akan dimusuhi dan dijauhkan, bila perlu dilenyapkan. Banyak contoh hidup yang memperlihatkan ironi tersebut, seperti Marsinah, yang memperjuangkan nasib kaum buruh di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Demikianpun Munir, seorang aktivis HAM, meninggal secara misterius di pesawat dalam penerbangan ke Amsterdam, 7 September 2004. Masih banyak lagi lainnya. Sejarah para pahlawan bangsa dan martir dalam Gereja juga menjadi saksi atas kekejaman terhadap para pembela kebenaran ini.

Yohanes Pembaptis, seperti dikisahkan Injil hari ini, juga adalah saksi kebenaran yang telah menjadi korban Herodes, si penguasa yang otoriter dan kejam. Apakah dengan demikian kita menjadi kecut dan takut, lantas bungkam di hadapan penguasa yang kejam, otoriter dan tak berperasaan? Kita adalah pengikut Kristus, bukan pengikut para pengecut. Dia telah mati untuk kita demi kebenaran. Tak ada alasan bagi kita pengikut-Nya untuk takut bersaksi demi kebenaran.

Tuhan Yesus, aku mau menjadi saksi kebenaran-Mu di tengah dunia yang penuh kepalsuan. Semoga perjuanganku tidak akan sia-sia. Amin.

Tinggalkan Pesan