DCIM104GOPROG0032013.

Oleh Wishaldi Limiadi ***

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Kutipan Injil Matius 5:7 ini adalah tema World Youth Day (WYD) 2016 di Krakow, Polandia. Kutipan ini memanggil kami, kaum muda murid-murid Kristus, untuk menjadi pewarta Kerahiman Ilahi dengan bermurah hati seperti Yesus dan memikul salib-salib dunia ini agar supaya kemurahan hati Bapa dapat terpancar bagi semua orang yang kami kasihi.

Uskup Pembantu Los Angeles Mgr Robert Emmet Barron pun saat memimpin ibadat malam adorasi di Tauron Arena, di hadapan 18.000 kaum muda dari berbagai negara, mengajak kami untuk lebih dalam merenungkan mengapa salib masih diperlukan di dunia. “Karena melalui salib-Nya, Yesus sendiri telah memikul dosa kita dalam tubuh-Nya di kayu salib, dan karena kerahiman Allah Bapa, kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran (1 Pet 2:24),” jawab Uskup Titular Macriana itu seraya berulang kali menekankan bahwa salib Yesus adalah “kunci pintu kerahiman Allah Bapa.”

Ya, kalimat “Bersiap-siaplah untuk hidup susah selama WYD,” sudah kami dengar dari Pastor Nilo Asuncion Lardizabal OP hampir setahun silam, saat pertama kali berkumpul merencanakan perjalanan ke WYD 2016. Seminggu sebelum keberangkatan pun, Vikjen Keuskupan Surabaya Pastor Agustinus Tri Budi Utomo Pr yang akrab dipanggil Romo Didik kembali mengungkapkan pesan senada: “Saat ini kaum muda dibombardir dengan pesan iman yang keliru bahwa mengikuti Tuhan yang mati di kayu salib itu tidak enak. Gantilah dengan Tuhan yang bangkit secara baru di dalam kesenangan-kesenangan kita.”

Pesan-pesan itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Tidak terhitung banyaknya salib yang harus kami pikul sejak persiapan perjalanan bulan April 2015 hingga tiba di Krakow hari Minggu, 24 Juli 2016 dan rangkaian acara WYD. Benar, pesan-pesan Pastor Nilo, Pastor Didik, dan Mgr Robert Barron sungguh kami rasakan. Justru karena dan melalui salib-salib inilah, dalam apa pun yang kami alami secara pribadi maupun yang kami pikul bersama dalam peziarahan ini kami merasakan sukacita yang lebih besar dan nyata daripada yang kami bayangkan atau pun harapkan.

Ada beberapa cerita “salib” kecil selama seminggu di Krakow. Namun salib-salib itu malah membuat saya ingin kembali lagi mengikuti WYD berikut!

Yang pertama, kamar mandi. Rombongan kami sebanyak 22 orang ditempatkan bersama 50 peserta dari USA di aula kecil, berukuran 8×15 meter yang biasanya digunakan sebagai tempat gymnastic, di sebuah sekolah berdekatan dengan gereja Paroki Świętego Józefa (Santo Yosef). Tidak banyak fasilitas yang memanjakan kami layaknya di hotel. Hanya ada beberapa matras senam dan tiga colokan listrik untuk digunakan bersama oleh 22 orang di ruangan tak ber-AC atau pun kipas angin itu. Yang ada hanya dua jendela besar di bagian utara aula. Itulah satu-satunya sumber oksigen segar untuk menyejukkan suasana di ‘rumah’ kami selama seminggu.

Rombongan kami adalah rombongan independen yang tidak mendaftar melalui jalur keuskupan. Mayoritas rombogan kami adalah komunitas Gaudens Cor, sekelompok OMK dari Paroki Redemptor Mundi Surabaya. Ada juga beberapa dari komunitas lain di Surabaya, ada dari Solo dan beberapa kawan yang lagi kuliah di Eropa. Mereka langsung bergabung di Krakow. Jumlah peserta dari KWI, kalau ngak salah, sebanyak 170 orang, namun jumlah keseluruhan dari Indonesia sebanyak 280.

Kembali ke ‘rumah’ kami. Saya lalu berpikir, mungkin ada baiknya kami tidak dimanjakan dengan fasilitas tidur terlalu nyaman, karena akan membuat kami malas bangun dan terjebak antrian panjang di kamar mandi. Masalahnya, hanya ada enam kamar mandi untuk 72 orang. Berarti sekitar 12 orang per kamar mandi. Jika setiap orang menggunakan kamar mandi selama 10 menit saja, maka dibutuhkan waktu dua jam untuk semuanya. Guna menghindari antrian, beberapa teman mulai bangun pukul 6.00 untuk bersiap tanpa antrian.

Meski demikian, sekolah tempat kami tinggal adalah satu-satunya sekolah yang mempunyai kamar mandi, demikian hiburan dari koordinator kami Krzysztof Górka. Peserta yang tinggal di sekolah-sekolah lain, katanya, harus menggunakan baju renang untuk mandi, karena panitia hanya menyiapkan shower sementara di lapangan untuk mandi. Jadi, daripada harus mandi di lapangan, kami sangat bersyukur atas kemewahan yang kami dapatkan walaupun harus berbagi dengan 72 orang lainnya.

Yang kedua adalah bahasa. Di ‘rumah’, kami bertetangga dengan rombongan dari USA. Di paroki, kami bertemu rombongan dari India. Di jalanan, … tidak terhitung lagi. Bendera-bendera dari 187 negara berkibar tinggi di segala penjuru kota Krakow. Tentu saja, si Merah-Putih tidak ketinggalan.

Paus Fransiskus mengatakan, di WYD ini kami semua datang dari berbagai penjuru dunia dan ketika bertemu saudara-saudari kami ini, mereka bukan lagi gambar yang kami lihat atau berita yang kami baca di layar televisi, komputer, atau smartphone. “Mereka mempunyai nama, mereka memiliki wajah, mereka membawa cerita, mereka benar-benar hadir bersama kita,” kata Bapa Suci kepada dua juta peziarah dalam Doa Malam di lapangan Campus Misericordiae, 30 Juli 2016.

Untuk membantu Anda membayangkan seberapa banyak dua juta orang itu, lihatlah stadium Gelora Bung Karno dengan kapasitas 88 ribu penonton. Jadi, dibutuhkan 23 stadion Gelora Bung Karno untuk menampung dua juta orang, atau setara dengan 3/4 jumlah populasi kota Surabaya. Sejauh mata memandang di lapangan Campus Misericordiae seluas 255 hektar itu, tidak terlihat ujung dari lautan manusia yang hadir. Beragam warna, beragam budaya, beragam bahasa.

Perbedaan bahasa cukup menjadi penghambat dalam acara-acara WYD karena mayoritas acara menggunakan bahasa Polandia, Prancis, Spanyol, dan Italia. Homili Paus Fransiskus disampaikan dalam bahasa Italia, sehingga kami harus mendengarkan terjemahan dalam bahasa Inggris melalui radio. Komunikasi kami dengan peserta dari negara-negara lain, terutama negara yang tidak terbiasa berbahasa Inggris, menjadi cukup terbatas. Akan tetapi, karena keterbatasan bahasa inilah, maka interaksi kami dengan peserta lain membutuhkan “bahasa” yang jauh lebih sederhana dan universal.

Dari pengalaman WYD ini, saya melihat dua hal yang mampu menyatukan banyak orang berbeda. Pertama, tongsis dan kamera! Tanpa pandang bulu, di mana ada tongsis, di situ pasti semua berkerumun layaknya keluarga besar yang sedang reuni. Kedua dan terutama adalah Sakramen Maha Kudus. Pada saat pentahtaan, adorasi dan perarakan Sakramen Maha Kudus, kami semua disadarkan atas alasan mengapa kami hadir di Krakow, mengapa kami rela berjalan jauh untuk berada di tempat itu. Karena Yesus. Dialah yang mengundang kami satu-persatu untuk melakukan peziarahan ini karena kami semua, “sekalipun banyak, merupakan satu tubuh… tubuh Kristus (1 Kor 12:12,27).”

Yang ketiga, perjalanan jauh. Orang yang sehari-hari bekerja di kantor akan berjalan rata-rata sebanyak 1.000 hingga 3.000 langkah per hari, sedangkan jumlah langkah ideal yang direkomendasikan untuk hidup lebih sehat adalah 10.000 langkah per hari. Selama WYD, bisa dikatakan kami hidup sangat sehat! Anna Chmura, koordinator komunikasi WYD mengungkapkan, “Para peziarah harus siap berjalan jauh selama berjam-jam, tapi hal ini selalu menjadi ciri khas WYD.”

Sejak Senin sampai Minggu, dalam kurun waktu 7 hari kami sudah berjalan 180.000 langkah, atau rata-rata sekitar 25.000 langkah per hari. Jika dihitung jarak, jumlah itu setara dengan berjalan 20 km setiap hari. Bahkan di hari Sabtu, untuk mencapai lapangan Campus Misericordiae guna mengikuti vigili atau doa malam bersama Paus Fransiskus, kami berjalan kaki 10 km. Kami mulai berjalan sekitar pukul 13.00 di tengah terik matahari dan sampai di lokasi pukul 18.00.

Berjalan kaki bersama dua juta orang mengingatkan saya tentang kisah bangsa Israel yang berjalan di padang gurun selama 40 tahun. Beberapa tafsiran Kitab Suci memprediksi jumlah populasi bangsa Israel di saat mereka keluar dari Mesir adalah 603.550 pria (Bil 1:46), dan jika ditotal dengan perempuan dan anak-anak, jumlahnya bisa mencapai lebih dari dua juta orang. Kurang lebih sama dengan jumlah peziarah di WYD kali ini. Sungguh tidak terbayangkan bagaimama dengan jumlah populasi yang hampir sama, bangsa Israel harus melintasi padang gurun gersang dan panas selama bertahun-tahun sebelum mencapai tanah perjanjian. Berjalan lima jam saja sepertinya seluruh keringat dan semangat kami terkuras habis.

Langkah demi langkah kami tempuh bersama, saling menyemangati dan saling membantu. Akhirnya kami melihat lokasi tujuan kami, dan dalam sekejap segala rasa lelah dan letih terhapuskan oleh sukacita yang luar biasa. Sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata perasaan kami saat itu. We made it!

Di malam vigili, Paus Fransiskus meneguhkan kami bahwa kebahagiaan berbeda dengan kenyamanan. “Kita tidak bekerja di dunia ini untuk membuat hidup kita nyaman seperti sofa yang enak untuk tidur. Tidak, kita datang untuk alasan berbeda: untuk meninggalkan jejak… Teman-temanku, Yesus bukanlah Tuhan atas kenyamanan, keamanan, dan kemudahan. Mengikuti Yesus membutuhkan keberanian, kesiapan untuk menukar sofa yang nyaman dengan sepasang sepatu dan mulai berjalan ke daerah yang baru dan asing untuk membagikan sukacita yang lahir dari kasih Allah dan tercurah dari hatimu melalui setiap aksi kasih yang kamu lakukan,” pesan Bapa Suci.

“Yesus mengundangmu, memanggil kamu untuk meninggalkan jejakmu dalam kehidupan, untuk meninggalkan jejak dalam sejarah, baik dirimu sendiri dan juga banyak orang lain… Apakah kamu siap untuk ini? Jawaban apa yang akan kamu berikan, dengan tangan dan dengan kakimu, kepada Allah yang adalah jalan, kebenaran dan hidup?” tanya Bapa Suci di akhir homili malam itu.

Di akhir Misa Penutupan WYD, Bapa Suci mengumumkan bahwa WYD 2019 akan diadakan di Panama. Apakah kamu siap? Sampai jumpa di Panama.***

DCIM104GOPROG0122312.

IMG_20160726_074315

DCIM104GOPROGOPR1926.

Tinggalkan Pesan