konflik-dgn-orang-farisi-dll-yesus-mengecam-mat-23

PEKAN BIASA XXI

Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu (P)
Santo Simforianus, Martir

Bacaan I: 2Tes. 1:1-5.11b-12

Mazmur: 96:1-2a.2b-3.4-5; R:3

Bacaan Injil: Mat. 23:13-22

Pada suatu hari, Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi: ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.] Cela­kalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja men­jadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersum­pah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persem­bahan atau mezbah yang menguduskan persem­bahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.

Renungan

Dalam Injil hari ini Yesus mengkritik cara hidup orang Farisi dan para ahli Taurat dengan suatu ungkapan khas para nabi di dalam Perjanjian Lama, yaitu ”celakalah.” Teguran keras ini biasanya dipakai oleh para nabi ketika bangsa Israel tidak mau mendengarkan undangan lembut Allah untuk bertobat dan memperbaiki diri. Jadi, di balik kata ”celakalah” ada penolakan dari pihak manusia. Yesus menyebut mereka sebagai orang munafik.

Kata ”munafik” dalam bahasa Yunani: ”hypocritos” juga dipakai untuk para aktor atau pemain teater. Para aktor di atas panggung bisa mementaskan drama dengan luar biasa, menampilkan orang yang kaya raya, suci, sedih, gembira, sengsara, jatuh cinta, kejam, dan lain sebagainya. Tetapi apa yang mereka perankan di panggung, tidaklah sama dengan kehidupan nyata mereka. Itulah yang bisa mengungkapkan makna dari kata ”munafik”: Apa yang di luar beda dengan apa yang di dalam.

Menjadi murid Yesus berarti kita melepaskan diri dari kepura-puraan. Suatu perbuatan baik dan suci harus mengalir dari hati yang tulus dan jujur. Tindakan keagamaan dan belas kasih seper­ti berdoa, membaca Kitab Suci, memberi bantuan berupa uang atau barang, betul-betul kita lakukan dari hati yang tulus dan murni, bukan dengan motivasi untuk dilihat dan dipuji orang lain.

Tuhan Yesus, jauhkanlah aku dari sikap munafik dan cari selamat diri. Semoga amal baktiku yang tulus berkenan kepada-Mu. Amin

Tinggalkan Pesan