KWI-Luk-13-22-30

PEKAN BIASA XXI (H)

Peringatan Wajib Santo Pius X, Paus

Bacaan I: Yes. 66:18-21

Mazmur: 117:1.2; R:Mrk.16:15

Bacaan I: Ibr. 12:5-7.11-13

Bacaan Injil: Luk. 13:22-30

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: ”Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir.”

Renungan

Injil Lukas disebut juga Injil Perjalanan. Yang menjadi tujuan dari perjalanan itu adalah Yerusalem, yang disebut sebagai kota Allah, dengan kata lain, tujuannya adalah Allah sendiri. Perjalanan tersebut sangat tampak ketika Injil Lukas mengisahkan Yesus Kristus yang berjalan keliling desa-desa dan kota-kota sambil mengajar.

Di dalam perjalanan-Nya, Yesus bertemu dengan banyak sekali orang dengan tanggapan yang bermacam-macam. Ada yang percaya dan sukacita menyambut-Nya, tetapi ada juga konflik, penolakan, bahkan iri hati dari beberapa pihak. Tuhan Yesus belajar dari setiap perjalanan-Nya untuk mencapai tujuan-Nya, yaitu Yerusalem, tempat Ia akan melaksanakan kehendak Bapa-Nya dengan menderita, wafat, dan bangkit.

Hidup kita pun sebuah perjalanan mencari, menemukan, dan menuju Allah. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Perjalanan hidup kita mengajarkan kepada kita banyak hal dalam menggapai kebahagiaan hidup, dengan segala jatuh bangun, canda tawa, pertemuan dan perpisahan, bahkan juga air mata dan tangisan. Kita diajak untuk menemukan rambu-rambu atau tanda-tanda yang tepat sehingga kita semakin mendekati tujuan akhir kebahagiaan kita, yakni tinggal bersama Allah.

Tuhan Yesus, kuatkanlah aku dalam perjalananku. Kadang aku lelah dan salah jalan. Arahkanlah jalanku untuk kembali kepada-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan