Renungan23-Feb-2016-A

PEKAN BIASA XX (H)
Peringatan Wajib Santo Bernardus, Abas, Puangga Gereja;
Samuel, Imam dan Hakim

Bacaan I: Yeh. 43:1-7a

Mazmur: 85:9ab-10.11-12.13-14; R:10b

Bacaan Injil: Mat. 23:1-12

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan

Yesus sebenarnya tidak memandang buruk ajaran atau hukum yang dibuat oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ajaran mereka berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah sendiri. Ajaran itu berguna untuk membawa manusia mengenal Allah dan setia pada peraturan-peraturan Allah.

Yang dikritik Yesus adalah cara hidup mereka yang bertolak belakang pada ajaran yang mereka bebankan kepada orang lain. Yesus berkata: ”mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya.” Kritik Yesus ini sangat relevan bagi setiap pengajar dalam Gereja, seperti para imam, diakon, katekis, pewarta, pemimpin, bahkan dalam diri orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Sering kali kita harus perang batin, apalagi ketika dari dalam hati, kita berkata: ”Ya Tuhan, aku sendiri masih jauh dari apa yang aku ajarkan.”

Keselaran antara hal-hal baik yang keluar di mulut dengan tindakan yang kita lakukan, adalah tantangan bagi setiap pengikut Yesus. Mengajar hal-hal baik seperti memberi ampun, jujur, setia, berderma, adil dan tidak pilih kasih adalah sangat muda, tetapi perlu usaha luar biasa untuk bisa melakukannya. Tetapi, hidup kita justru dilihat dari apa yang kita lakukan secara konkret, bukan melulu teori. Kesaksian hidup sederhana jauh lebih berharga dari teori-teori suci yang tidak pernah dipraktikkan.

Tuhan Yesus, bantu aku yang sering rapuh ini untuk bisa menyelaraskan kata-kata dan tindakanku dalam praktik setiap hari. Amin.

Tinggalkan Pesan