Tarsisius Day

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga yang jatuh tanggal 15 Agustus dirayakan di Indonesia pada hari Minggu, 14 Agustus 2016. Sebenarnya 15 Agustus adalah juga Pesta Santo Tarsisius. Namun, pesta itu tidak disebut dalam Kalender Romawi Umum hanya dalam Martirologi Romawi. Padahal orang kudus itu adalah pelindung putra altar dan penerima komuni pertama.

Meskipun demikian, sebanyak 50-an Misdinar Paroki Katedral Santa Maria Dari Gunung Karmel, Ijen, Malang, merayakan Tarsisius Day di kompleks SDK Santa Maria II guna mempererat sesama misdinar serta mengevaluasi kinerja yang telah dijalankan selama ini.

Di sekolah itu nampak mereka duduk lesehan di lantai ditemani pembina, suster dan imam. Di sana mereka saling berbagi kisah dan pengalaman sebelum dan sesudah menjadi misdinar.

Menjadi misdinar, cerita Bonaventura yang masih belajar di SMAK Frateran Malang, merupakan kesempatan yang baik untuk melayani Tuhan lewat Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan imam setiap hari Minggu atau pun perayaan lainnya.

“Senang bangat, ya, kalau saya bisa membantu Romo memimpin Misa atau Ekaristi. Saya sungguh menikmati menjadi misdinar,” kata Bonaventura yang mengaku memutuskan menjadi misdinar bukan karena paksaan orangtua, “melainkan karena ingin terlibat aktif dalam pelayanan.”

Bonaventura tak memungkiri bahwa sebagian umat Katolik di Gereja Ijen masih melihat misdinar dengan sebelah mata, bahkan mengatakan menjadi misdinar tak berguna hanya membuang waktu.

Meskipun demikian, cibiran dan tanggapan negatif menjadi kesempatan dan jalan bagi dia untuk lebih bersungguh dalam memberi diri untuk Tuhan. “Saya terus bersemangat menjadi misdinar, bahkan bertekad terus mengajak teman-teman sebaya untuk terlibat sebagai misdinar.”

Ditegaskan, “Di usia sangat muda ini, kalau tidak memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin dengan menjadi misdinar, kita akan menyesal. Banyak hal saya dapatkan dengan menjadi misdinar,” katanya.

Pembina misdinar juga mengalami riak-riak tersendiri dalam membimbing dan melatih anak-anak misdinar. Rosa mengalami hal itu. Namun dia tetap semangat, bahkan tak mau berputus asa ketika melihat orangtua tidak memberikan izin dan kesempatan kepada anak-anaknya untuk menjadi misdinar.

“Tantangan yang saya alami adalah tidak adanya dukungan orangtua dan umat untuk misdinar. Umat dan orangtua hanya memprotes kalau misdinar melakukan kesalahan dalam membantu Romo,” katanya.

Dia percaya, melihat dan menganggap misdinar sebagai “barang rongsokan” akan mempengaruhi anak lain. Maka ia menyarankan agar orangtua dan umat memberikan dukungan penuh kepada misdinar.

Tuntutan sekolah adalah tantangan yang lebih berat. “Sebagian anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, sehingga menyulitkan orangtua untuk memberikan izin dan dukungan kepada masing-masing anaknya untuk menjadi misdinar.”

Kepala Paroki Katedral Santa Maria Dari Gunung Karmel Pastor Emanuel Wahyu Widodo Pr dalam kesempatan itu berharap agar Tarsisius Day mendorong dan menyemangati anak-anak misdinar untuk lebih tekun dan giat dalam pelayanan. “Ya, artinya dengan berbagai cara untuk menyemangati mereka. Kalau tidak, mereka akan jenuh,” kata imam yang dikenal dengan panggilan Romo Emil.

Oleh karena itu, Romo Emil meminta dukungan dan peranserta orangtua dan umat, agar tetap memberikan dukungan penuh dengan memberikan izin kepada anak-anaknya untuk terlibat dalam pelayanan sebagai misdinar. “Gereja membutuhkan mereka!” tegas imam itu. (Felixianus Ali)

Tarsisius Day Misdinar Paroki Katedral Malang di kompleks   SDK Santa Maria II Malang

Tinggalkan Pesan