Perkawinan

PEKAN BIASA XIX (H)
Santa Radegundis dari Turingia;
Beato Isidorus Bakanja

Bacaan I: Yeh. 16:59-63

Mazmur: 12:2-3.4bcd.5-6 Ref:1c

Bacaan Injil: Mat. 19:3-12

Pada suatu hari, datanglah orang-orang Farisi kepa­da Yesus, untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: ”Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: ”Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya: ”Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka: ”Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya: ”Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Renungan

Kisah tentang perceraian akan sangat tepat bila dibaca bersamaan dengan Injil kemarin. Ada begitu banyak relasi entah mulai dari pertemanan, persahabatan, persaudaraan bahkan relasi suami-istri, kakak-adik, orangtua dan anak menjadi hancur berantakan karena sulitnya kita dalam memberi ampun orang yang pernah berbuat salah kepada kita. Semakin dalam hati kita terluka, semakin sulit kita untuk mengampuni.

Ada sebuah hubungan unik antara pengampunan dengan sebuah relasi. Semakin dekat relasi semakin mudah mengampuni. Contohnya orangtua, mudah sekali memaafkan anaknya bila anaknya salah dan minta maaf dengan tulus. Kesalahan dihapus oleh cinta yang besar. Namun sebaliknya, orang yang paling mudah untuk menyakiti kita adalah orang-orang yang kita cintai. Karena kesalahan orang tersebut akan membuka hal-hal lain seperti: merasa dikhianati, dibohongi, dan tidak dihargai.

Kedua hal tersebut bisa terjadi dalam hidup kita. Maka kunci untuk menghayati makna satu daging, tidak terceraikan, adalah pengampunan. Cinta yang besar harus dibarengi dengan pengampunan yang besar pula.

Tuhan Yesus, biarlah aku semakin mampu memberi ampun dalam kehidupan rumah tanggaku, perbaikilah setiap relasi yang retak, hambar dan dingin, dengan kekuatan cinta-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan