perumpamaan-pengampunan-mat-18-21-dst-001

PEKAN BIASA XIX (P)
Peringatan Wajib Santa Klara dari Assisi; Santa Susana

Bacaan I: Yeh. 12:1-12

Mazmur: 78:56-57.58-59.61-62; R:7c

Bacaan Injil: Mat. 18:21–19:1

Sekali peristiwa, datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata: ”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudara­ku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: ”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang ber­hutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyam­paikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Renungan

Mengampuni itu terkadang mudah di mulut, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Banyak dari kita gagal dan belum bisa mengampuni dengan segenap hati seperti yang diajarkan Yesus dalam bacaan ini. Yesus mau menegaskan bahwa pengampunan itu bukan soal kuantitas (berapa kali), tetapi soal kualitas (dengan segenap hati). Bagaimana kita bisa mengampuni orang dengan segenap hati kalau orang itu semakin kurang ajar, tidak menghargai dan tidak pernah berubah? Itu masalah yang sering kita hadapi.

Pengampunan yang kita beri tidak melulu demi orang lain, atau demi mengubah orang lain. Dengan mengatakan secara tulus: ”Aku mengampuni kamu”, kita sebenarnya bertindak sebagai pemenang, bahwa kita menang atas ego, gengsi, kebencian, dendam, yang muncul dalam diri kita. Kebencian inilah yang merusak kebahagiaan manusia dari generasi ke generasi, dan tidak ada obat semahal apa pun harganya selain memberi ampun dan maaf. Hanya pengampunanlah yang mampu memutus rantai kebencian dan sungguh menawarkan kebahagiaan yang nyata.

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah mengampuni dosaku. Ajar aku untuk mengam­puni orang lain. Biarlah kebencian menjadi musnah oleh pengampunan sejati. Amin.

Tinggalkan Pesan