annjoachimmary

PEKAN BIASA XVII
Santo Yoakim dan Santa Anna, orang tua Santa Perawan Maria (P)

Bacaan I: Sir. 44:1.10-15

Mazmur: 132:11.13-14.17-18; R: Luk. 1:32a

Bacaan Injil: Mat. 13:16-17

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: ”Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepa­damu: Sesung­guhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mende­ngar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

Renungan

Perintah menghormati orangtua ada di dalam Kitab Suci (bdk. Kel. 20:1-17). Yesus punya orangtua, Maria dan Yosef. Maria punya orangtua juga, Yoakim dan Anna, yang hari ini kita peringati. Yesus lahir ke dunia hanya karena Bunda Maria setuju. Maria menjadi suci karena didikan orangtuanya. Maka wajarlah kita menghormati mereka dan meneladani karakter baik mereka. Orangtua pasti berperanan besar dalam kesucian dan kesuksesan anaknya. ”Buah tidak jatuh jauh dari pokoknya,” kata pepatah.

Gereja Katolik menghormati orang kudus; bukan menyembahnya. Yang disembah hanyalah Tuhan. Santo/a itu bisa para religius atau awam, baik yang berkeluarga atau tidak. St. Yohanes Paulus II mengkanonisasi pasangan suami-istri Quattrocchi. Paus Fransiskus mengkanonisasi orangtua St. Theresia Lisieux. Itu semua karena terbukti dalam segala kesulitan hidup, mereka tetap suci dan mendidik anak-anak dengan baik. Mereka menjadi teladan kita.

Setiap kita pun dipanggil menjadi kudus, apa pun status hidup kita. Kekudusan bukan milik kelompok tertentu, tapi semua pengikut Yesus. Meneladani cara hidup Yesus dan bercermin pada kehidupan para kudus, teristimewa santo dan santa pelindung kita masing-masing, semoga kita pun menjadi kudus dalam kehidupan harian kita.

Ya Tuhan, semoga aku menjadi kudus, seperti Engkau kudus adanya. Berkatilah para orang tua agar menjadi teladan kekudusan di dalam keluarga masing-masing. Amin.

Tinggalkan Pesan