penabur

PEKAN BIASA XVI
Peringatan Wajib Santa Maria Magdalena (P)
Santo Teofilus

Bacaan I: Yer. 3:14-17

Mazmur: Yer. 31:10.11-12ab.13; R:10d

Bacaan Injil: Mat. 13:18-23

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: ”Dengarlah arti perum­pa­maan tentang penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”

Renungan

Sesudah pindah rumah dari pusat kota ke pinggiran, seorang ibu senang sekaligus kaget. Senang karena ia sudah jauh dari hiruk pikuk kota. Kaget karena anaknya ternyata baru pertama kali melihat hewan yang namanya ayam, yang dimiliki tetangga. Selama ini dia hanya makan daging ayam, tanpa tahu bagaimana bentuk ayam itu. Itulah yang terjadi dengan anak kota, yang tak bisa lagi melihat berbagai jenis hewan, selain memakan dagingnya di restoran.

Perumpamaan tentang penabur mungkin agak sulit juga dimengerti oleh anak-anak yang hidup di kota besar, yang tidak pernah melihat sawah, ladang, atau cara petani menanam. Namun, cukup mudah bagi pendengar Yesus waktu itu. Tanah di Israel memang beragam dan benih dilemparkan begitu saja. Beda dengan kita di Indonesia. Akibatnya, ada yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu, di semak belukar, dan di tanah yang subur. Kesuburan tanah juga berbeda-beda, sehingga hasilnya pun tidak sama.

Allah juga ingin benih Sabda-Nya jatuh di hati kita yang subur dan berbuah banyak. Namun tidak selalu terjadi demikian. Kita termasuk yang mana? Kebanyakan kita mengakui diri kita seperti benih yang jatuh di semak berduri. Kita menerima Sabda Allah, tetapi tidak berakar dan tidak tumbuh subur, karena banyak beban dan masalah dalam hidup. Kita senang akan renungan yang lucu dan menarik, tapi sekadar hiburan di telinga saja. Itu berarti, Sabda Allah belum berbuah, apalagi berbuah lebat. Marilah kita senantiasa menjaga tanah hati kita agar tetap subur bagi bertumbuhnya benih iman dan kebaikan di dalam diri kita.

Tuhan, jadikanlah hatiku lahan yang subur untuk sabda-Mu; singkirkanlah segala penghalangnya, dan cairkanlah hatiku yang beku. Amin.

Tinggalkan Pesan