9319896_orig

PEKAN BIASA XV
Peringatan Wajib Santo. Benediktus, Abbas; (P)
Santa Olga (Helga); Martir-martir Vietnam

Bacaan I: Yes. 1:11-17

Mazmur: 50:8-9.16bc-17.21.23; R:23b

Bacaan Injil: Mat. 10:34-11:1

Pada suatu hari Yesus bersabda kepada kedua belas murid-Nya: ”Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Renungan

Sekelompok ibu-ibu, yang tiap hari ke gereja, sering kali tidak segera pulang ke rumah seusai Misa. Mereka senang bercengkerama di halaman gereja sekitar 1-2 jam. Ketika ditanya mengapa mereka tak langsung pulang, jawaban mereka cukup mengagetkan: ”Di rumah kami bosan. Kalau pulang ke rumah cepat-cepat, tak ada gembiranya. Pekerjaan rumah sudah menumpuk: memasak, mencuci piring, mencuci baju, dsb. Tidak happy di rumah. Di sini kami gembira, bisa lepas tertawa”.

Dari jawaban mereka, kita bisa berpikir: Jangan-jangan mereka ini melarikan diri dari pekerjaan rutin rumah tangga, yang menjadi kewajibannya. Padahal pekerjaan itu penting dan patut dijalankan. Suami dan anak mereka pastilah menunggu. Misa hanya dijadikan sarana untuk bisa keluar dari rumah.

Nabi Yesaya mengingatkan kita akan hidup doa yang diiringi dengan hati yang bersih. Doa bukanlah suatu pelarian. Kepada pemimpin Sodom, Yesaya berkata: ”Untuk apa kurbanmu yang banyak itu? Jangan lagi membawa kurban yang tidak sungguh… Aku benci melihatnya…. Semua­nya itu menjadi beban bagi-Ku” (bdk. Yes. 1:11-14). Tuhan tidak suka pada doa yang meng­abaikan kewajiban kepada sesama.

Beriman pada Yesus bukanlah karena hubungan darah, tapi pilihan hidup. Beriman yang benar bukanlah suatu pelarian. Pelarian tidak membuat iman berdampak. Iman yang benar tidak hanya harus diungkapkan dalam doa di gereja, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan amal kasih di dalam hidup nyata sehari-hari. Kewajiban kepada Allah dan sesama harus dijalankan bersama, walaupun tidak mudah.

Ya Tuhan, aku ingin menyambut-Mu dengan tulus melalui perbuat amal kasih dan kesetiaanku dalam menjalankan pekerjaan harianku. Amin.

 

Tinggalkan Pesan