good_samaritan_2

PEKAN BIASA XV (H)
Santa Veronika Yuliani; Santa Rufina dan Secunda;
Santo Olaf II; Santo Felisitas; Santo Eric IX; Santo Nikolaus Pick

Bacaan I: Ul. 30:10-14

Mazmur: 69:14.17.30-31.33-34.36ab.37; R:33

Bacaan II: Kol. 1:15-20

Bacaan Injil: Luk. 10:25-37

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ”Guru, apa yang harus kuperbuat untuk mem­peroleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: ”Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan sege­nap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya: ”Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: ”Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: ”Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan mera­­watnya. Keesokan harinya ia menyerah­kan dua dinar kepada pemilik pengi­napan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan meng­gantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: ”Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: ”Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Renungan

Ada yang bilang, mencintai Tuhan itu sulit karena Ia tak kelihatan. Kita pun tak tahu apa maunya Tuhan. Tetapi, Musa mengatakan, perintah Tuhan itu tidak terlalu sulit, tidak terlalu jauh, tidak terletak di langit, dan tidak di seberang lautan. Sabda Tuhan itu ada di dalam dirimu, ”di dalam mulutmu dan di dalam hatimu”. Dibutuhkan kepekaan hati untuk mendengarkan-Nya.

Ada orang yang mengatakan mencintai Tuhan itu mudah, cukup berdoa saja. Pendapat ini salah, sebab mencintai Tuhan tak cukup di mulut saja. Ia harus dibuktikan dalam cinta pada sesama. Lewat perumpamaan ”orang Samaria yang baik hati”, Yesus menunjukkan sesama itu bukan hanya orang sebangsa, sedarah, seagama dengan kita, tetapi setiap orang yang membutuhkan bantuan. Yesus menolak legalisme dan cinta eksklusif.

Cinta kepada sesama adalah cerminan cinta kepada Allah. Iman kepada Allah tak berhenti di mulut saja, tetapi harus diwujudkan konkret dalam perbuatan. Yesus telah melaksanakannya. Demi cinta-Nya kepada Bapa dan kita, Ia mati di salib. Menurut Paulus, Kristus adalah gambar Allah yang tak kelihatan. Dialah kepenuhan Allah. Marilah kita mencontoh Kristus itu.

Ya Tuhan, Sabda-Mu adalah roh dan kehidupan. Semoga aku tidak memisahkan hidup berimanku dengan hidup duniawiku. Amin.

Tinggalkan Pesan