chevalier

Kunjungan umat adalah reksa pastoral yang tidak tergantikan. Kebanyakan umat mengeluh, karena pastor parokinya dalam berkunjung itu  “pilih-pilih”. Bahkan ada salah seorang umat yang berkata, “Kebanyakan pastor yang bertugas di paroki kami khan dari keluarga yang sederhana bahkan miskin, kenapa setelah menjadi pastor lupa asal-usulnya”. Kata-kata itu sempat membuat telinga saya merah, karena saya memang dari keluarga miskin, orang nggunung lagi!

Berikut ini kami turunkan tulisan dari Markus Marlon tertanggal 9 Juli 2016 dengan judul:

KUNJUNGAN 

(Belajar dari Pater Jules Chevalier)

Belum lama ini, saya mengadakan kunjungan orang sakit. Tiba-tiba seorang ibu janda yang sudah sepuh nyelethuk, “Sekarang ini, para pastor tidak pernah kunjungan umat. Mungkin karena kami orang miskin, “pauper ubique iacet” – di mana-mana orang miskin itu tidak dihargai, seperti yang dikatakan Ovidius (43 seb.M – 18 M). Kalau zaman dulu, pastor-pastor  bule itu rajin kunjungan walau hanya jalan kaki saja!”

Kata-kata yang keluar dari bibir ibu itu memang harus saya amini. Kunjungan umat adalah reksa pastoral yang tidak tergantikan. Kebanyakan umat mengeluh, karena pastor parokinya dalam berkunjung itu  “pilih-pilih”. Bahkan ada salah seorang umat yang berkata, “Kebanyakan pastor-pastor yang bertugas di paroki kami khan dari keluarga yang sederhana bahkan miskin, kenapa setelah menjadi pastor lupa asal-usulnya”.  Kata-kata itu sempat membuat telinga saya merah, karena saya memang dari keluarga miskin, orang nggunung lagi!

Herman Pongantung MSC dalam bukunya yang berjudul, “Pastor Jules Chevalier” menyadarkan kita yang sebagian besar pembaca milis ini adalah pastor. Pastor Jules Chevalier sangat dekat dengan orang miskin dan sangat terbuka dengan mereka. Ia senantiasa mengadakan kunjungan umat, terutama keluarga-keluarga susah atau janda miskin. Pada kesempatan itu pula, Chevalier menyadari bahwa ia sendiri adalah orang miskin, lahir dari keluarga susah. Sementara itu, Hans Kwakman MSC dalam bukunya yang berjudul, “Karisma Jules Chevalier dan Indentitas Keluarga Chevalier” memberikan masukan tentang kedekatan Pastor Chevalier dengan kaum miskin, “Ia berbicara tentang perlunya mengunjungi kaum miskin secara personal, mengesampingkan keenakan diri, duduk di sisi kaum miskin, menghirup udara yang mereka hidup. Itulah cara kita menunjukkan bahwa kita mengasihi mereka dan menganggap mereka sebagai saudara-saudara kita” (hlm. 49).

Barangkali, Pastor Chevalier sangat memahami bahwa Gereja adalah gereja kaum miskin, seperti apa yang ditulis C. Congar dalam bukunya yang berjudul, “Gereja Hamba Kaum Miskin”.  Seorang pastor  –mau tidak mau – dipandang oleh sebagian umat mempunyai jabatan penting. Sebagai contoh, sebutan“Romo” di kalangan masyarakat Jawa, pasti berasal dari lingkungan kraton yang feodal. Dan untuk beberapa orang, kesan keningratan atau kefeodalan itu masih terasa. Di negeri Barat, orang kenal istilah, “Don” (Itali), “Monsieur l’abbé” (Prancis). Di Indonesia kita juga kenal istilah RP dan RD yang barangkali membuat umat miskin bertanya-tanya, “Kuwiki apa to” – singkatan apa sich itu? Padahal kita sering mendengar azas Injil, “Non dominari, sed ministrare” – bukan memerintah melainkan melayani. Atau dalam Injil kita membaca, “Just as the Son of Man did not come to be served, but to serve, and to give his life as a ransom for many” – Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20: 28).

Pastor Berthy Tijow dalam refleksinya untuk para imam dan bruder “Sulkaltim” (Sulawesi Kalimantan Timur + Utara) pada akhir Juni 2016, menulis bahwa orang-orang miskin sangat dekat dengan Pastor Jules Chevalier, “Mereka tahu bahwa tidak akan ditolak. Untuk umat paroki, dompetnya selalu terbuka” (hlm. 48). Hal ini barangkali mirip dengan apa yang dibuat oleh Kardinal Justinus Darmoyuwono, yang mengatakan, “Mungkin orang-orang yang datang itu ada yang menipu kita. Tetapi siapa tahu ada yang memang butuh sekali uang. Toh kita lebih baik ditipu daripada menipu.

Dan pada masa kini, Mgr Ignatius Suharyo dalam suatu kesempatan Temu Pastoral di Aula KAJ (September 2015) memberikan input untuk para petugas pastoral. Katanya, “Orang miskin itu butuh makan, pakaian, uang sekolah, obat dan perhatian. Berikanlah kepada mereka apa yang mereka butuhkan saat itu. Urusan pemberdayaan adalah urusan lain atau nanti.”***

Sabtu, 9 Juli 2016 Markus Marlon

Keterangan gambar: Pastor Jules Chevalier MSC, pendiri Tarekat MSC

 

1 komentar

  1. Saya Katolik sudah 50 tahun lebih. Selama itu tidak pernah ada kunjungan. Tapi saya tidak pernah kecewa. Tugas pastor banyak, tidak usah manja dan berharap dikunjungi. Di tengah kesibukan, mungkin pastor akan mengunjungi umatnya jika dirasa perlu. Profisiat Romo Markus Marlon, tulisan anda bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Salam dari Pekalongan, Tuhan memberkati.

Tinggalkan Pesan