yesus menyembuhkan seorang bisu

PEKAN BIASA XIV (H)
Santo Antonius Maria Zakaria

Bacaan I: Hos. 8:4-7.11-13

Mazmur: 115:3-4.5-6.7ab-8.9-10; R:9a

Bacaan Injil: Mat. 9:32-38

Pada suatu hari dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: ”Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata: ”Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.” Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Renungan

Hosea dipanggil Tuhan untuk mengingatkan umat Israel agar bertobat. Tuhan memanggil para nabi, rasul, pengajar, pewarta, dan kita menjadi pengingat-pengingat agar pendosa bertobat. Tetapi sedikitlah yang mau menjawab-Nya. ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit,” kata Yesus. Karena itu, ”mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”. Doa ini tidak hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri sebab kita sendiri pun dipanggil menjadi pekerja-Nya.

Gereja membutuhkan pewarta-pewarta masa kini. Dulu kita pikir ini tugas para misionaris. Kini kita sadari, setiap murid Yesus dipanggil menjadi misionaris. Bukan menjadi misionaris ke luar negeri, tetapi di dalam lingkungan hidup sendiri: di dalam keluarga, tempat kerja dan masyarakat sekitar. Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) yang diadakan berbagai paroki dan kelompok kategorial membantu kesadaran kita akan panggilan ini.

Dalam Evangelii Nuntiandi, Paus Paulus VI menyebutkan setiap murid Yesus adalah evangelizer, pewarta Injil. Menjadi pewarta Injil berarti memberikan kesaksian hidup yang baik. Kesaksian itu harus dari diri kita sendiri, yang gembira dipanggil Tuhan. Itulah yang dikatakan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium. Tanpa kegembiraan hidup sendiri, Injil yang kita wartakan adalah palsu, sebab Injil itu adalah Kabar Gembira. Gembirakah kita sekarang sebagai pengikut Yesus?

Ya Tuhan, semoga aku gembira karena telah ditebus oleh-Mu. Dan semoga aku juga mau menjadi saksi kegembiraan imanku. Amin.

 

Tinggalkan Pesan