4 juli

PEKAN BIASA XIV (H)
Santa Elisabeth dari Portugal; Santo Ulrich;
Beato Pierre Georges Frassati

Bacaan I: Hos. 2:13.14b-15.18-19

Mazmur: 145:2-3.4-5.6-7.8-9; R:8a

Bacaan Injil: Mat. 9:18-26

Sekali peristiwa, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: ”Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: ”Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: ”Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: ”Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Renungan

Tuhan itu pengasih dan penyayang. Sifat Tuhan ini tampak dalam sejarah umat Israel. Mereka tidak setia kepada Tuhan, tetapi tetap disayang Tuhan. Bahkan Tuhan menyebut mereka ”istriku”. Hubungan Tuhan dengan umat-Nya disimbolkan Nabi Hosea sebagai hubungan suami-istri. Seperti suami sayang kepada istrinya, demikian juga Tuhan sayang kepada umat-Nya.

Kasih sayang Allah itu tampak dalam diri Yesus. Ia adalah perwujudan Allah yang Mahakasih. Dalam Injil, Yesus membangkitkan putri Yairus, kepala rumah ibadat. Orang yang sudah mati, jadi mayat. Menyentuh mayat, najis bagi orang Yahudi. Namun, Yesus memegang tangan anak yang mati itu dan membangkitkannya. Yesus juga menyembuhkan wanita yang sakit pendarahan. Orang yang sakit pendarahan, najis juga menurut hukum Taurat. Ia tidak boleh beribadat dan menyentuh ataupun disentuh orang lain. Dia malah menyentuh jubah Yesus. Akibatnya, bukan Yesus yang menjadi najis, tetapi wanita itu justru sembuh. Kedua orang najis ini disayang Tuhan: mereka hidup lagi.

Kita sering najis, berdosa, tak layak di hadapan Tuhan. Tetapi Dia tetap sayang pada kita. Dia tidak membinasakan kita, malah dosa kita dihapuskan-Nya. Marilah kita mencontoh Tuhan yang pengasih dan penyayang ini. Janganlah kita mudah menajiskan orang. Jika ada orang yang menyakitkan hati kita, marilah kita ampuni. Seperti Yesus, kita menjadi perwujudan kasih Tuhan.

Ya Tuhan, semoga aku tidak cepat marah dan menyingkirkan orang. Berilah aku hati yang lembut dan penyayang. Amin.

 

Tinggalkan Pesan