Berpuasa

PEKAN BIASA XIII (H)
Santo Bernardino Realino dkk.; Santo Fransiskus di Girolamo;

Santo Yohanes Fransiskus Regis

Bacaan I: Am. 9:11-15

Mazmur: 85:9.11-12.13-14; R:lh.9b

Bacaan Injil: Mat. 9:14-17

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: ”Mengapa kami dan orang Farisi berpua­sa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menam­balkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penam­bal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”

Renungan

Karena berdosa, umat Israel dibuang. Jika bertobat, Allah akan mengembalikan mereka. Mereka akan tidak lagi hidup sebagai orang buangan, tetapi sebagai orang yang memiliki tanah, kebun anggur, dan makan buahnya yang lebat.

Salah satu cara bertobat adalah dengan berpuasa. Orang Yahudi berpuasa dua kali seminggu, yakni pada Senin dan Kamis. Semasa Yesus hidup, murid-Nya tidak berpuasa, karena Yesus, Sang Pengantin, sedang berada bersama mereka. Istilahnya, mereka sedang gembira dalam ”pesta kawin”. Namun, sesudah Yesus wafat dan bangkit, para murid berpuasa.

Dalam berpuasa, bukan penampilan luar yang penting, tapi pertobatan batin. Karena itu, bukan banyak hari, jam atau jumlah makanan yang penting dalam berpuasa, tetapi mutunya. Yang utama bukan kuantitas, tetapi kualitasnya.

Sebelum Komuni, Gereja tidak lagi mewajibkan kita berpuasa setelah jam 12 malam, tetapi wajib berpuasa 1 jam sebelumnya. Tujuannya, agar kita lapar dan haus akan Yesus Kristus, kita rindu bertemu dengan-Nya. Tanpa persiapan batin, pertemuan kita dengan Yesus terasa hambar.

Mungkin selama ini kita kurang menyadari makna puasa bagi kita atau sudah tidak ada lagi tradisi puasa sama sekali. Dengan warta Injil hari ini hati kita digerakkan untuk meluruskan kembali pemahaman kita yang keliru dan coba mulai menghayati puasa dengan tekun dan benar.

Ya Tuhan, bantulah aku agar tidak serampangan saja menyambut Komuni, tetapi mempersiapkan diri dengan baik, juga dengan berpuasa. Amin.

Tinggalkan Pesan