WKRI

Mantan Rektor SMA Kolese Gonzaga, Jakarta, yang pernah menjadi Pendamping Rohani Wanita Katolik RI (WKRI) Jakarta, Pastor Thomas Salimun Sarjumunarsa SJ, mengajak seluruh anggota WKRI untuk memiliki tiga hal penting dalam organisasi dan pelayanan di tengah masyarakat, yakni merasa bahagia sejahtera, hidup menurut Roh yang baik, membina persahabatan sejati dengan siapa pun.

Berkaitan dengan persahabatan, jelas  imam itu, wanita Katolik “perlu memiliki komitmen untuk tetap melayani masyarakat kecil, tersisih dan dipinggirkan, agar yang terlayani memiliki harkat dan martabat yang patut dihormati.”

Pastor Thomas berbicara dalam homili Misa Syukur HUT ke-92 WKRI DPD Jakarta di aula paroki Hati Kudus, Kramat, Jakarta, 25 Juni 2016. Misa itu dihadiri 300-an peserta yang merupakan perwakilan seluruh cabang dari berbagai paroki di KAJ.

Sejahtera, lanjut Pasor Thomas, bukan diukur dari materi yang dimiliki “melainkan keseimbangan antara hidup jasmani dan rohani,” sedangkan hidup menurut Roh mengandung arti “seorang wanita Katolik, dalam tuntunan Roh Kudus, melakukan pelayanan kasih tulus sesuai visi dan misi WKRI.” Imam itu meminta wanita Katolik untuk takut melakukan perbuatan yang baik “karena Allah pasti memberikan perlindungan kepada siapa pun yang setia melakukan kebaikan itu.

Ketua DPD WKRI Jakarta, Yanti Paulus, membenarkan dalam sambutannya bahwa hingga saat ini WKRI memiliki jasa pelayanan Tempat Penitipan Anak (TPA) di Pasar Kemis, Tangerang. “Pelayanan ini dilakukan sebagai wujud kepedulian WKRI terhadap kaum buruh di Tangerang,” jelasnya.

Dulu hanya satu unit kini bertambah tiga unit rumah. Pelayanan itu telah berjalan sejak 18 tahun lalu dan kini menampung 75 anak berusia 6 bulan hingga 9 tahun, dengan delapan pengasuh dan dua pengurus dari WKRI. Orangtua yang menitipkan anak hanya memberikan sekadarnya kepada TPA itu sebagai rasa tanggungjawab mereka.

Koordinator pengurus TPA Tangerang Bernadet Netty Lau menjelaskan pelayanan itu dilandasi oleh keprihatinan terhadap pasangan keluarga muda yang keduanya bekerja di pabrik. “Mereka kesulitan kalau tidak ada pengasuh anak di rumahnya, maka TPA hadir menjawab kerinduan mereka,” katanya.

Maria Asumpta Endang Widiyanti, anggota WKRI Cabang Bernadeth Ciledug, memberi kesaksian bahwa dengan bergabung dalam WKRI dia menimba banyak pengalaman dan pengetahuan dari sesama anggota. WKRI menjadi semacam “sekolah kehidupan,” katanya, seraya menambahkan bahwa dengan semangat berbagi WKRI bisa meningkatkan talenta serta menambah ekonomi keluarga anggota lain.

Manfaat lain dari WKRI, lanjut ibu kelahiran Yogyakarta itu, adalah belajar mengenai kedisiplinan, membagi waktu, saling memberikan perhatian suami, istri dan anak. “Benih-benih keutamaan hidup itu dikembangkan dalam WKRI kemudian dibawa ke dalam keluarga, lanjutnya.

Sehari sebelum Misa Syukur HUT ke-92 itu, seluruh anggota WKRI dari wilayah KAJ mengikuti lomba tari “Gemu Famire” di Paroki Kristoforus Grogol, Jakarta Barat. Selain Misa, dalam acara di Kramat itu ditebarkan pula pentas seni dan lagu, serta hiburan dan pameran kerajinan ekonomi kreatif yang melibatkan seluruh anggota WKRI. (Konradus R. Mangu)

 

Tinggalkan Pesan