Mengikuti Yesus

PEKAN BIASA XIII (H)
Santa Emma, Sant. Cyrilus dari Alexandria

Bacaan I: Am. 2:6-10. 13-16

Mazmur: 50:16bc-17. 18-19. 20-21. 22-23; R:22

Bacaan Injil: Mat. 8:18-22

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: ”Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: ”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: ”Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

Renungan

Keluarga adalah istana yang senantiasa menjanjikan kebahagiaan dan sukacita. Keluarga yang senantiasa diwarnai kasih-sayang, saling pengertian, rukun dan damai, senantiasa membawa kebahagiaan dan kenyamanan. Maka tidaklah mengherankan jika ada orang agak susah untuk berpisah dan tinggal jauh dari keluarganya. Seorang calon imam menangis haru pada saat memberkati keluarganya, seorang anak yang akan berpisah dari keluarga demi melanjutkan pendidikan di tempat yang jauh pun demikian. Sebab mulai saat itu mereka harus hidup mandiri dan berada di luar zona nyaman.

Yesus meminta setiap pengikut-Nya untuk berani meninggalkan zona nyaman, mau-aman-aman saja, sebagaimana dialami dalam kehidupan keluarga. Yesus menuntut keberanian para pengikut-Nya untuk menjalani sebuah model hidup yang beda, yang penuh risiko, tantangan dan penderitaan. Sebuah cara hidup yang berfokus pada pelayanan dengan meninggalkan berbagai kepentingan diri dan egoisme. Referensi utama menjalani gaya hidup seperti itu adalah Yesus sendiri. Dengan demikian, setiap pengikut-Nya hendaknya meninggalkan kepentingan dan urusan lain, bahkan keluarga sekalipun, jika ingin fokus pada cara hidup dan cara kerjanya Yesus. Pilihan hidup itu terasa keras dan terbilang berat. Namun, kesediaan para murid di masa lalu, yang juga dihidupi oleh kaum terpanggil saat ini, menjadi bukti bahwa cara hidup yang diminta Yesus bukan mustahil mampu dijalani asalkan kita memusatkan diri, berpasrah, dan menggantungkan hidup kita pada Yesus sendiri.

Kita pun dalam hidup ini, harus berani meninggalkan zona nyaman kita, dengan berani mengambil risiko dan siap menghadapi berbagai tantangan sebagai akibat dari pilihan hidup kita sendiri. Di dalam dan bersama Tuhan, jika apa yang kita lakukan itu baik dan benar, pasti akan diberkati Tuhan dengan kelimpahan kasih dan rahmat-nya.

Ya Tuhan, kuatkanlah Aku untuk senantiasa siap sedia mengikuti jalan-Mu, sekalipun menghadapi banyak rintangan dan hambatan dalam menghayati panggilan hidup yang aku pilih. Amin.

Tinggalkan Pesan