Krisma di Ruteng

Mgr Hubertus Leteng Pr mengatakan, pertanyaan Yesus dalam Injil Lukas “Menurut kamu, siapakah Aku?” menegaskan pentingnya memiliki gagasan, ide, dan pendapat sendiri tentang sesuatu. “Mendengar dari orang, membaca dari media, menonton televisi juga penting, tapi jauh lebih penting adalah memiliki pendapat sendiri tentang sesuatu, apalagi tentang Yesus Kristus yang kita imani.”

Uskup Ruteng berbicara dalam homili Misa penerimaan Sakramen Penguatan (Krisma) kepada 2.439 umat Paroki Santo Gregorius Borong di Keuskupan Ruteng, tanggal 19 Juni 2016. Kebanyakan dari penerima sakramen yang membludak di gereja di Manggarai Timur itu adalah anak-anak SD sampai SMA, dan sebagian kecil umat dewasa.

Sudah beberapa tahun memang tidak ada penerimaan Sakramen Penguatan di Paroki Borong. Karena banyaknya jumlah umat yang menerima Sakramen Penguatan dan karena gereja paroki sedang direnovasi karena sudah tidak bisa menampung umat yang hadir, maka penerimaan sakramen itu dilakukan di halaman gereja.

Uskup Ruteng meminta agar para penerima Sakramen Penguatan itu “mengenal Yesus menurut pandangan kita sendiri, bukan menurut pandangan dan kata orang lain, yang belum tentu benar adanya.”

Lebih lanjut ditegaskan bahwa mendengar dan mempelajari Yesus dalam kehidupan manusia mesti dilakukan terus-menerus dan tidak berhenti. “Caranya seperti membaca Kita Suci, berdoa, mengikuti kegiatan rohani, dan lain-lain. Jika tidak, maka kita menjadi miskin,” lanjut uskup.

Mgr Hubertus Leteng percaya bahwa dengan demikian para penerima Sakramen Penguatan itu akan menjadi dewasa dalam iman “bukan karena orang lain namun karena pandangan dan pikiran kita sendiri tentang Yesus.”

Uskup berharap agar apa saja yang mereka dengar dan dapatkan dari orang lain menyatu dengan diri dan hidup mereka yang pada akhirnya menjadi milik mereka sendiri. “Inilah Gereja mandiri yang memiliki prinsip dan iman secara mandiri sesuai potensi yang diberikan Tuhan kepada masing-masing orang dan selaras dengan tujuan dari penerimaan Sakramen Krisma,” kata uskup.

Dalam kaitan itu, Uskup Leteng menyentil soal plagiarisme atau penjiplakan yang marak berkembang dewasa ini terutama di kalangan pendidikan, dengan meminta para guru di sekolah, “supaya mengembangkan kegiatan mengarang sebagai modal dasar berpikir sendiri sehingga anak-anak memiliki kemampuan untuk mengungkapkan gagasan, pandangan, dan pikiran sendiri.”

Uskup juga meminta anak-anak sekolah yang menerima sakramen itu untuk meminimalisir tindakan nyontek dalam ujian. “Jangan sampai masuk atau lulus ke perguruan tinggi karena menjiplak milik orang lain,” tandas Uskup Leteng. (Thomas  A. Sogen)

Tinggalkan Pesan