14

PEKAN BIASA XII (H)
Santo Yosephus Kafasso;
Santa Etheldreda

Bacaan I: 2Raj. 24:8-17

Mazmur: 79:1-2. 3-5. 8. 9; R:9bc

Bacaan Injil: Mat. 7:21-29

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata: ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

Renungan

Melalui bacaan hari ini, Yesus mengajarkan apa yang harus dilakukan agar kita memiliki iman yang kokoh sebagai jaminan untuk memiliki keselamatan. Yesus memulai pengajarannya dengan menggambarkan situasi masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bahwa untuk tinggal dalam Kerajaan Keselamatan, tidaklah cukup bagi kita dengan hanya menyerukan nama Tuhan ataupun menceritakan serentetan kebaikan yang dilakukan selama hidup. Orang bisa berbohong dan bermanipulasi di saat-saat akhir, bahwa selama hidupnya mereka berbuat baik atas nama Tuhan. Namun, Tuhan tidak perlu membutuhkan alat tes kebohongan untuk menguji pengakuan pribadi manusia.

Kejujuran kita diuji oleh praktik atau penghayatan hidup keberimanan yang kita lakukan selama berada di dunia. Keberimanan itu diibaratkan membangun sebuah rumah. Orang jujur akan membangun rumah dengan fondasi yang kuat sesuai dengan campuran maksimal yang dibutuhkan. Rumah yang demikian akan kokoh dan takkan hancur di tengah badai dan taufan. Sedangkan orang yang tidak jujur akan memanipulasi campuran bangunan, yang oleh Yesus diumpamakan dengan membangun rumah di atas pasir. Bangunan yang demikian otomatis cepat roboh dan hancur berantakan ketika dilanda badai dan taufan.

Untuk memiliki bangunan iman yang kokoh membutuhkan campuran yang kuat. Campuran itu adalah mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Nya. Dua hal yang tidak dapat dilepas-pisahkan, karena Sabda baru berfaedah jika dipraktikkan dalam perbuatan, dan perbuatan hanyalah aktivisme belaka jika tidak didasarkan pada Sabda Tuhan.

Ya Tuhan, semoga seluruh tindakan dan perbuatanku setiap hari benar-benar sesuai dan senantiasa bersumber pada Sabda dan Kehendak-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan